Gina S. Noer menilai film seharusnya tidak berhenti sebagai tontonan di layar, tetapi dapat dipakai sebagai alat belajar di sekolah. Menurutnya, medium ini bisa membantu siswa mengasah cara berpikir kritis, empati, dan literasi audiovisual sejak dini.
Dalam pandangan penulis sekaligus sutradara itu, film mampu membawa anak memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih dekat. Ia menyebut film juga dapat melatih siswa untuk mengamati, bertanya, lalu menarik kesimpulan secara mandiri.
Gina menyampaikan pandangan tersebut dalam acara Netflix Family Festival 2026: World of Wonder di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia mencontohkan serial Dinosaur Train sebagai tayangan yang bukan hanya mengenalkan dinosaurus, tetapi juga mendorong penonton berpikir aktif di setiap episode.
Film dan Serial Bisa Dipilih Sesuai Usia
Gina menilai pendekatan seperti Dinosaur Train bisa diterapkan pada banyak film dan serial lain, selama disesuaikan dengan usia serta tahap perkembangan siswa. Dengan cara itu, tayangan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media yang relevan untuk proses belajar di kelas.
| Contoh Media | Fungsi Pembelajaran | Manfaat bagi Siswa |
|---|---|---|
| Dinosaur Train | Mengenalkan dinosaurus sambil memancing observasi | Melatih bertanya, mengamati, dan menarik kesimpulan |
| Film atau serial lain | Disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa | Membantu memahami persoalan, berpikir kritis, dan berempati |
Budaya Menonton Bisa Dibentuk Sejak Bangku Sekolah
Selain untuk belajar, Gina menyoroti pentingnya mengenalkan klasifikasi usia dalam memilih tontonan. Ia menilai kebiasaan itu dapat dibangun sejak sekolah agar anak terbiasa memahami pilihan tontonan yang tepat, termasuk saat menonton film di bioskop.
Jika film mulai dipakai sebagai media belajar, budaya menonton yang lebih baik diyakini bisa tumbuh lebih awal. Dari sana, masyarakat diharapkan tidak hanya menikmati film, tetapi juga mendiskusikannya dengan cara yang lebih tepat, kritis, dan apresiatif.
Gina juga melihat manfaatnya bagi para guru. Dengan memanfaatkan film sebagai media belajar, guru disebut akan lebih siap mengikuti perkembangan zaman karena memiliki sarana yang dekat dengan keseharian anak.
Ekosistem Film Perlu Dilihat Lebih Menyeluruh
Di sisi lain, Gina menilai pembahasan soal ekosistem perfilman masih kerap berhenti pada produksi dan distribusi. Akibatnya, perhatian lebih banyak mengarah ke aspek ekonomi, sementara pemanfaatan karya dan pembangunan budaya apresiasi sering luput dari fokus utama.
Karena itu, ia menilai pendidikan seharusnya menjadi pintu awal untuk memperkuat ekosistem film. Dalam pandangannya, film bisa dipakai sebagai media belajar dengan melibatkan para guru di sekolah, sehingga fungsi karya tidak hanya dinilai dari sisi pasar.
Gina menegaskan bahwa ekosistem film tidak boleh dipersempit hanya pada cara menghasilkan uang. Pembicaraan tentang film, menurutnya, perlu melihat keseluruhan peta, termasuk bagaimana sebuah karya dipakai, dipahami, dan dihargai oleh penontonnya.
Source: lifestyle.bisnis.com






