Data Inflasi AS Melemah, Rupiah Bertahan Menguat di Rp18.068

Rupiah menutup perdagangan Rabu (15/7) di level Rp18.068 per dolar AS, menguat 23 poin atau 0,13 persen dibanding penutupan sebelumnya. Arah pergerakan ini menunjukkan pasar masih memberi ruang bagi mata uang Garuda untuk bertahan di tengah tekanan global.

Penguatan rupiah terjadi ketika dolar AS mulai kehilangan tenaga setelah data inflasi Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa The Fed berpeluang menurunkan suku bunga lebih cepat dari dugaan sebelumnya.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan data inflasi AS menjadi faktor utama yang menopang rupiah pada perdagangan hari ini. Kepada CNNIndonesia.com, ia mengatakan, “Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan sehingga memicu meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.”

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung tidak seragam. Yuan China naik 0,02 persen, peso Filipina menguat 0,03 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,03 persen.

Mata UangPergerakanKeterangan
Yuan ChinaNaik 0,02%Menguat terhadap dolar AS
Peso FilipinaNaik 0,03%Menguat terhadap dolar AS
Ringgit MalaysiaNaik 0,03%Menguat terhadap dolar AS
Dolar SingapuraTurun 0,02%Melemah terhadap dolar AS
Yen JepangTurun 0,04%Melemah terhadap dolar AS
Won Korea SelatanTurun 0,23%Melemah terhadap dolar AS
Dolar Hong KongTurun 0,01%Melemah terhadap dolar AS

Namun, tidak semua mata uang di Asia mendapat dorongan yang sama. Dolar Singapura turun 0,02 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,23 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

Selain dari luar negeri, rupiah juga memperoleh penopang dari dalam negeri. Lukman menyebut keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia ikut menjaga minat pelaku pasar terhadap aset domestik.

“Rupiah juga masih mendapat sentimen positif dari dipertahankannya peringkat kredit Indonesia oleh S&P,” ujarnya. Meski begitu, ruang penguatan mata uang Garuda belum sepenuhnya leluasa karena pasar masih mencermati faktor risiko dari luar kawasan.

Menurut Lukman, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia masih menjadi penahan laju penguatan rupiah. Kondisi itu membuat sentimen positif dari data inflasi AS dan keputusan peringkat kredit Indonesia belum cukup untuk mendorong rupiah bergerak lebih jauh.

Pergerakan mata uang utama negara maju juga terlihat bervariasi. Euro Eropa menguat 0,03 persen, poundsterling Inggris naik 0,04 persen, dolar Australia terapresiasi 0,15 persen, dan dolar Kanada menguat 0,05 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, franc Swiss justru melemah 0,10 persen. Pola ini memperlihatkan pasar valuta asing masih sangat responsif terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik global.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait