Ancaman hilangnya salju abadi Papua kini semakin nyata karena dua gletser yang masih tersisa di Puncak Jaya diperkirakan tidak akan bertahan hingga 2027. Jika skenario ini terjadi, Indonesia akan kehilangan gletser tropis terakhirnya dalam waktu yang sangat singkat.
Kondisi tersebut membuat Puncak Jaya berada dalam sorotan karena kawasan ini selama ini dikenal sebagai rumah bagi gletser tropis terakhir di Asia. Dari enam gletser yang pernah tercatat, kini hanya Gletser Carstensz dan East Northwall Firn yang masih ada.
Penyusutan es di wilayah itu juga sudah berlangsung sangat lama. Data pemantauan menunjukkan lapisan es di Papua telah berkurang sekitar 97 persen dalam 44 tahun terakhir, sehingga sisa yang ada sekarang hanya tinggal fragmen kecil dari masa lalu.
Para peneliti menyebut pemanasan global sebagai pendorong utama di balik hilangnya es di puncak Papua. Donaldi Permana, peneliti iklim BMKG, menjelaskan bahwa kenaikan suhu membuat batas ketinggian pembentukan salju ikut naik, sehingga curah hujan yang seharusnya turun sebagai salju justru berubah menjadi hujan.
Perubahan itu membuat gletser kehilangan asupan salju baru. Tanpa suplai pengganti yang cukup, es yang tersisa terus menyusut dan proses pencairan berjalan semakin cepat dari waktu ke waktu.
El Niño mempercepat penipisan es
Selain pemanasan global, El Niño juga memperberat kondisi gletser Papua. Permana dan timnya meneliti inti es sepanjang 32 meter yang diambil dari Papua pada 2010, lalu menemukan bahwa laju penyusutan meningkat tajam saat El Niño terjadi.
Lonjakan paling jelas terlihat pada periode 2015-2016. Pada masa itu, tingkat penipisan vertikal gletser naik hampir lima kali lipat, dari sekitar satu meter per tahun menjadi 5,3 meter per tahun.
Temuan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya gletser tropis Papua terhadap cuaca ekstrem. Dalam situasi seperti ini, perubahan kecil pada suhu dan pola iklim dapat langsung memengaruhi ketebalan es yang tersisa.
Ukuran es yang terus menyusut drastis
Skala kehilangan es di Papua juga terlihat dari perubahan luas gletser dari masa ke masa. Pemodelan tim peneliti menunjukkan luas gletser Papua turun dari sekitar 19,3 kilometer persegi pada 1850 menjadi hanya sekitar 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi pada periode 2022-2024.
Jika digambarkan secara visual, penyusutan itu setara dengan perubahan dari sekitar 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya sekitar 40 lapangan sepak bola. Angka tersebut memperlihatkan betapa tipis dan terbatasnya sisa lapisan es yang masih bertahan di puncak Papua.
Permana memperingatkan bahwa beberapa model iklim menunjukkan peluang hilangnya gletser Papua bisa terjadi sangat cepat. Ia menyebut meningkatnya kemungkinan El Niño kuat pada paruh kedua 2026 dapat membuat gletser Indonesia lenyap pada 2026-2027.
Bukan sekadar persoalan lingkungan
Hilangnya salju abadi Papua tidak hanya berarti berkurangnya bentang alam di pegunungan tinggi. Bagi banyak komunitas adat di Papua, puncak gunung yang bersalju memiliki nilai spiritual yang besar dan dianggap sebagai bagian penting dari identitas budaya serta tempat bersemayamnya leluhur.
Wewin Wira Cornelis Wahid, peneliti keberlanjutan asal Indonesia yang diwawancarai GlacierHub, mengatakan bahwa hilangnya salju abadi juga berarti hilangnya bagian penting dari warisan budaya Papua. Ia menegaskan bahwa salju abadi bukan sekadar elemen alam, melainkan bagian dari identitas spiritual masyarakat.
Mike Kaplan, geolog dari Lamont-Doherty Earth Observatory, juga menilai gletser tropis sebagai peringatan dini atas dampak perubahan iklim global. Menurut dia, sekalipun emisi gas rumah kaca dihentikan sekarang, sistem iklim bumi masih memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri.
Kaplan menambahkan bahwa kenaikan suhu global masih berpotensi berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Dalam konteks Papua, tahun-tahun El Niño menjadi penanda paling jelas bahwa peluang bertahannya es abadi di Puncak Jaya kian menipis dari waktu ke waktu.
Source: www.cnbcindonesia.com






