Google Cloud Tegaskan Data Pelanggan Tak Dipakai Latih AI, Ini Dampaknya

Google Cloud menegaskan data pelanggan tidak akan dipakai untuk melatih model AI miliknya. Perusahaan juga memastikan data sensitif dan sovereign data tetap berada di bawah kendali pemiliknya, tanpa dipindahkan dari yurisdiksi yang dipersyaratkan.

Penegasan itu menjadi penting di tengah kehati-hatian perusahaan, lembaga, dan pemerintah dalam mengadopsi AI. Bagi Google Cloud, kendali data bukan pelengkap, melainkan syarat utama agar teknologi ini bisa dipakai secara luas dan tetap sesuai dengan kebutuhan kepatuhan.

Kendali data tetap di tangan pemilik

Vice President of Technology and Customer Engineering APAC Google Cloud Moe Abdula mengatakan keamanan, kepatuhan, dan tata kelola data menjadi pertimbangan utama dalam adopsi AI. Ia menegaskan bahwa data berdaulat tetap harus berada di dalam negeri, sementara data pribadi akan tetap dikelola oleh negara atau lembaga pemiliknya.

Dalam Media Briefing Google Cloud di Jakarta, Rabu (15/7/2026), Moe juga menyebut Google tidak akan menggunakan informasi apa pun untuk melatih model miliknya sendiri. Pernyataan ini menegaskan posisi Google Cloud di saat kekhawatiran soal penyalahgunaan data masih menjadi penghalang besar bagi sebagian organisasi.

AI juga dipakai untuk menghadapi ancaman siber

Selain bicara soal perlindungan data, Google Cloud menyoroti perubahan ancaman keamanan di era AI. Menurut Moe, pelaku kejahatan siber kini bisa menemukan celah keamanan lebih cepat karena AI juga digunakan oleh para peretas.

Untuk menghadapi situasi itu, Google Cloud memanfaatkan berbagai model AI guna membantu pelanggan menemukan lebih banyak potensi kerentanan. Tujuannya bukan hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga membantu menemukan solusi melalui platform yang terintegrasi.

Google Cloud menggabungkan sejumlah layanan keamanan seperti Wiz, Security Command Center, dan Mandiant dalam satu platform. Integrasi ini dirancang untuk membantu pelanggan mendeteksi, memprioritaskan, dan memantau ancaman keamanan secara berkelanjutan.

Layanan KeamananFungsi UtamaTujuan di Platform
WizMendeteksi potensi kerentananMembantu identifikasi ancaman
Security Command CenterMemantau keamananMendukung pemantauan berkelanjutan
MandiantMenangani ancaman keamananMembantu prioritisasi dan respons

AI mulai memberi nilai bisnis nyata di Indonesia

Country Director Google Cloud Indonesia Karim Siregar mengatakan implementasi AI di Indonesia sudah memasuki fase baru. Menurut dia, perusahaan tidak lagi sekadar bereksperimen, melainkan mulai memakai AI untuk memecahkan masalah sehari-hari dan menciptakan nilai bisnis nyata.

Karim menyebut Google memperkirakan implementasi AI dan cloud berpotensi menciptakan economic value sekitar Rp200 triliun di Indonesia. Nilai itu bukan pendapatan langsung, melainkan kontribusi ekonomi dari efisiensi, pengurangan fraud, perbaikan manajemen risiko, dan manfaat lain.

Google Cloud juga menyoroti dampak produktivitas pekerja. Berdasarkan paparan perusahaan, peningkatan produktivitas 4,4% setara dengan penghematan sekitar 1,1 jam kerja per pekan per pekerja atau sekitar 350 juta jam kerja secara nasional setiap tahun.

Di sisi bisnis, penerapan AI agent pada layanan pelanggan berpotensi meningkatkan return on investment hingga 1,2 kali. Dampak yang lebih tinggi disebut terlihat pada fungsi business development sebesar 1,3 kali dan pada business intelligence mencapai 1,6 kali.

Investasi global untuk memperkuat ekosistem mitra

Karim menambahkan bahwa Google secara global telah menyiapkan investasi sebesar US$750 juta untuk memperkuat ekosistem mitra. Dana itu dialokasikan melalui program Forward Deployed Engineer, yakni tenaga ahli Google yang bekerja langsung bersama pelanggan.

Program tersebut dirancang untuk membantu merancang dan mengimplementasikan solusi AI sesuai kebutuhan bisnis. Bagi Google Cloud, pendekatan ini menunjukkan bahwa AI kini diposisikan sebagai alat yang harus memberi manfaat praktis di tiap lini usaha.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terkait