Indonesia kembali mendapat sorotan internasional setelah Global Flourishing Study menempatkannya di posisi teratas sebagai negara paling sejahtera menurut indeks human flourishing. Pencapaian ini menarik perhatian karena ukuran kesejahteraan yang dipakai jauh melampaui hitungan ekonomi semata.
Studi tersebut menilai kebahagiaan dan kepuasan hidup, makna dan tujuan hidup, rasa syukur, harapan, kedermawanan, kualitas hubungan sosial, kepercayaan, kesehatan fisik, hingga partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan ukuran seluas itu, posisi Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan sosial dan budaya juga menjadi bagian penting dari kesejahteraan nasional.
Kesejahteraan yang tidak berhenti di angka ekonomi
Temuan ini menggeser cara pandang yang selama ini kerap menempatkan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional sebagai ukuran utama kemajuan. Dalam hasil Global Flourishing Study, Indonesia justru menonjol karena aspek-aspek yang berkaitan dengan kualitas hidup sehari-hari dan relasi antarwarga.
Kajian ini disusun oleh peneliti dari sejumlah universitas ternama, termasuk Harvard University di Amerika Serikat dan University of Navarra di Spanyol. Kehadiran nama-nama besar tersebut membuat hasilnya ikut disimak sebagai sinyal bahwa kesejahteraan dapat dibaca dari dimensi yang lebih luas.
Kadin melihat peluang ekonomi yang lebih manusiawi
Sorotan terhadap posisi Indonesia makin menguat setelah peluncuran Indonesia–Australia Human Flourishing Center di Universitas Gadjah Mada bersama Australian Catholic University. Pusat kolaborasi itu akan berfokus pada riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dengan Indonesia sebagai titik pusat kajian kesejahteraan manusia di tingkat global.
Dukungan juga datang dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Luar Negeri sekaligus CEO PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), Bernardino Moningka Vega, menilai capaian ini sebagai cerminan kekuatan Indonesia yang selama ini belum banyak masuk dalam percakapan ekonomi dunia.
“Temuan ini menunjukkan potensi Indonesia dalam mengembangkan paradigma pembangunan ekonomi global yang berpusat pada manusia,” ujarnya. Menurut Bernardino, pertumbuhan ekonomi perlu berjalan seiring dengan makna budaya dan kesejahteraan sosial agar manfaatnya terasa lebih luas.
Modal sosial menjadi pembeda
Bernardino juga menyoroti nilai-nilai seperti Bhinneka Tunggal Ika dan gotong royong sebagai modal sosial yang ikut menguatkan posisi Indonesia di mata komunitas riset global. Ia menilai kekuatan tersebut perlu dijaga saat dunia bisnis bergerak semakin jauh ke arah teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Dalam pandangannya, pertanyaan penting dalam ekonomi digital bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi juga keadilan dan pemerataan manfaat. Karena itu, ia menekankan pentingnya menanamkan gotong royong dalam ekonomi digital agar kecerdasan buatan mendorong pertumbuhan yang inklusif, terpercaya, dan merata.
Pandangan itu menempatkan teknologi sebagai alat untuk memperluas kesejahteraan masyarakat, bukan sebagai tujuan akhir. Di titik ini, Indonesia dipandang memiliki peluang untuk menawarkan model pembangunan yang memadukan inovasi, kepercayaan, dan inklusi sosial.
Arah baru bagi pembangunan
Hasil studi global tersebut ikut menguatkan gagasan bahwa kearifan lokal Indonesia bisa menjadi acuan dalam membangun ekonomi yang lebih manusiawi. Di tengah dunia yang kerap diwarnai gejolak, temuan ini memberi pesan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pemaknaan hidup tidak harus berjalan terpisah.
Bernardino menyebut Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemimpin yang berkelanjutan dalam human flourishing. Baginya, pertumbuhan, teknologi, dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan selama tetap berlandaskan kepercayaan, inklusi, dan semangat gotong royong.
Source: mediaindonesia.com






