GPS, Sensor Gas, dan Detak Jantung Ditanam di Helm Tambang UWIKA untuk Pantau Keselamatan Real-Time

Author: Redaksi Android62

Helm tambang tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung kepala. Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (UWIKA) di Surabaya merancang helm pintar berbasis Internet of Things yang dapat memantau kondisi lingkungan sekaligus kondisi fisik pekerja secara langsung saat bekerja di area berisiko.

Perangkat ini dibuat untuk menjawab kebutuhan keselamatan kerja yang menuntut respons cepat. Di lingkungan tambang, perubahan suhu, potensi gas berbahaya, dan penurunan kondisi tubuh pekerja bisa muncul sewaktu-waktu, sehingga alat pemantau yang terhubung dan sigap dianggap penting.

Pemantauan ganda untuk lingkungan dan tubuh

Smart helmet UWIKA dibekali beberapa sensor yang saling melengkapi. Sensor suhu LM 135 dipakai untuk mendeteksi perubahan temperatur lingkungan, sementara sensor gas beracun MQ-135 berfungsi membaca adanya gas berbahaya di sekitar area kerja.

Di sisi lain, sensor MAX30102 ikut dipasang untuk memantau detak jantung dan kadar oksigen dalam darah atau SpO₂. Dengan kombinasi tersebut, helm tidak hanya membaca situasi di sekitar pengguna, tetapi juga membantu menilai apakah tubuh pekerja masih berada dalam kondisi aman saat menjalankan tugas.

Lokasi pekerja bisa dipantau lebih cepat

Selain memantau kondisi fisik dan lingkungan, helm ini juga dilengkapi pelacakan lokasi berbasis GPS. Fitur tersebut membantu pihak terkait mengetahui posisi pekerja secara akurat, terutama ketika terjadi keadaan darurat atau saat pekerja berada di area tambang yang luas.

Saat sistem mendeteksi kondisi berisiko, voice alert akan aktif secara otomatis. Informasi status juga tampil di layar LCD yang terpasang pada perangkat, sehingga pengguna bisa segera mengetahui apakah keadaan di sekitarnya aman atau perlu diwaspadai.

Data sensor diolah dengan Fuzzy Mamdani

Seluruh informasi dari sensor tidak berhenti pada tampilan mentah. Sistem ini mengolah data menggunakan metode Fuzzy Mamdani untuk menggabungkan berbagai parameter yang terbaca lalu mengelompokkan kondisi menjadi dua status utama, yaitu aman dan bahaya.

Pendekatan ini membuat penilaian sistem menjadi lebih adaptif karena keputusan tidak hanya bergantung pada satu indikator. Kombinasi suhu, gas, detak jantung, kadar oksigen, dan lokasi memberi gambaran yang lebih utuh tentang tingkat risiko yang dihadapi pekerja.

Bisa dipantau dari jarak jauh lewat Blynk

Helm pintar tersebut juga terhubung ke aplikasi IoT Blynk. Melalui koneksi ini, data dapat dipantau dari jarak jauh oleh pengawas atau manajemen tanpa harus berada di lokasi yang sama dengan pekerja.

Pemantauan jarak jauh memberi nilai tambah dalam pengawasan karena informasi diterima secara real-time. Dalam kondisi tertentu, akses cepat terhadap data itu dapat membantu pihak terkait mengambil langkah lebih tepat saat muncul indikasi bahaya.

Berpotensi dipakai di lebih banyak sektor

Walau dirancang untuk tambang, inovasi dari UWIKA ini juga punya peluang diterapkan di bidang lain. Sektor konstruksi, manufaktur, hingga energi disebut bisa memanfaatkan teknologi serupa selama ada penyesuaian dengan kebutuhan masing-masing lapangan.

Inovasi smart helmet ini menunjukkan bahwa teknologi dapat memperkuat budaya keselamatan kerja dengan cara yang lebih modern dan responsif. Melalui sensor, analisis data, peringatan otomatis, dan konektivitas aplikasi, perangkat ini menawarkan cara baru untuk memantau risiko di lingkungan kerja berbahaya secara lebih praktis.

Berita Terbaru