250 Siswa Hidupkan Growth, Saat Tari Daerah Menyatu dengan Energi Hip-Hop

Sekitar 250 siswa aktif RAFA International Dance School terlibat dalam musikal Growth, sebuah produksi yang memadukan tari daerah Indonesia dengan hip-hop. Keterlibatan penampil dalam jumlah besar membuat pertunjukan ini mengandalkan koreografi kelompok yang padat dan koordinasi panggung yang kuat.

Panggung Growth mempertemukan gerak Tari Gantar, Jaipong, Piring, dan Saman dengan unsur jazz serta balet kontemporer. Perpaduan tersebut menempatkan tradisi bukan sebagai pelengkap, melainkan bagian utama dari bahasa gerak pertunjukan.

Tradisi bertemu energi urban

Hip-hop memberi dorongan ritme dan energi urban pada susunan koreografi, sementara jazz dan balet kontemporer memperluas variasi gerak para penampil. Hasilnya adalah panggung yang menghubungkan kekuatan bentuk tari tradisional dengan ekspresi visual yang dekat dengan selera generasi muda.

Pendekatan ini berupaya menggeser anggapan bahwa tari daerah hanya dapat dipertunjukkan dalam bentuk yang kaku. Identitas setiap tarian tetap digunakan, tetapi ditempatkan dalam komposisi yang lebih modern dan dinamis.

TarianAsal DaerahUnsur Paduan
Tari GantarKalimantan TimurJazz, hip-hop, dan balet kontemporer
Tari JaipongJawa BaratJazz, hip-hop, dan balet kontemporer
Tari PiringSumatera BaratJazz, hip-hop, dan balet kontemporer
Tari SamanTidak disebutkanJazz, hip-hop, dan balet kontemporer

Keempat tarian itu berasal dari latar budaya yang berbeda dan dirangkai dalam satu alur musikal. Keragaman tersebut menunjukkan luasnya materi budaya Indonesia yang dapat diolah menjadi pertunjukan bersama.

Growth digagas oleh Nevine Rafa Kusuma bersama RAFA International Dance School. Produksi ini juga melibatkan kolaborasi dengan Teuku Rassya melalui Yayasan Raya Budaya Nusantara.

Perjalanan tumbuh dan mencari identitas

Musikal ini membawa cerita mengenai proses pertumbuhan manusia dan pencarian jati diri. Tema tersebut dikaitkan dengan tantangan anak muda untuk tetap mengenali akar budaya di tengah kuatnya arus tren global.

Menurut detikcom, pertunjukan ini mengusung tajuk Tarian Raya di Balik Hutan Nusantara. Pohon dipakai sebagai metafora perjalanan manusia, sejalan dengan gagasan tentang tumbuh dan menemukan identitas.

Pementasan tidak hanya mengandalkan tampilan visual, musik, dan gerak yang energik. Seni pertunjukan juga dipakai sebagai medium agar anak-anak dan generasi muda dapat memahami kekayaan budaya melalui pengalaman menyaksikan cerita di panggung.

Format hiburan tersebut membuat pengenalan budaya hadir tanpa berhenti pada penjelasan sejarah. Penonton diajak merasakan dialog antara warisan tari daerah dan gaya gerak global yang berkembang saat ini.

Melalui Growth, tari tradisional Indonesia memperoleh ruang tampil yang berbeda tanpa harus meninggalkan unsur dasarnya. Pertunjukan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersama bentuk ekspresi baru yang relevan bagi generasi muda.

Source: hot.detik.com
Berita Terkait