Pelatihan guru STEM yang digelar PWNU Jawa Tengah bersama Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah di Central China Normal University, Wuhan, menjadi langkah penting untuk memperkuat kompetensi pendidik dari Jawa Tengah. Program ini diarahkan agar guru dan dosen lebih siap menghadirkan pembelajaran sains yang inovatif, adaptif, dan berbasis teknologi.
Kegiatan tersebut menyasar pendidik dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang memiliki latar belakang sains dan teknologi. Melalui pelatihan ini, peserta didorong memahami cara mengintegrasikan STEM ke dalam proses belajar supaya kelas tidak lagi berjalan secara konvensional, melainkan lebih selaras dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.
Pembelajaran yang dituntut lebih relevan
Ketua PWNU Jawa Tengah menilai pendekatan STEM menjadi salah satu jawaban atas tantangan pendidikan abad ke-21. Menurutnya, penguasaan STEM dapat membantu peserta didik berkembang dalam kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Dorongan itu tidak hanya diarahkan kepada siswa, tetapi juga kepada guru dan dosen sebagai penggerak utama di ruang kelas. Karena itu, pelatihan di CCNU diharapkan mampu membantu pendidik merancang pembelajaran yang lebih relevan, kontekstual, dan aplikatif.
Materi yang menyentuh kebutuhan pembelajaran modern
Selama kegiatan berlangsung, peserta menerima sejumlah materi yang berkaitan langsung dengan penguatan pembelajaran masa kini. Topik yang dibahas meliputi pemanfaatan AI, pengembangan kurikulum berbasis STEM, dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
Bekal tersebut dinilai penting karena sekolah dan kampus kini perlu menyesuaikan metode ajar dengan perkembangan teknologi. Dengan memahami pendekatan baru, guru dan dosen diharapkan mampu mengembangkan model pembelajaran yang lebih dinamis di kelas masing-masing.
Melihat langsung praktik di lingkungan CCNU
Selain mengikuti sesi penyampaian materi, peserta juga berkesempatan melihat langsung sistem pendidikan dan fasilitas pembelajaran di CCNU. Kampus ini dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Wuhan, terutama dalam bidang pendidikan guru.
Pengalaman tersebut memberi konteks nyata bagi peserta tentang bagaimana pembelajaran berbasis teknologi dan pendekatan STEM diterapkan dalam lingkungan akademik yang berkembang. Observasi langsung semacam ini menjadi pelengkap penting selain materi kelas dan diskusi bersama pengajar.
Bagian dari perluasan jejaring pendidikan Ma’arif
Sekretaris Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah, Muhammad Ahsanul Husna, menyebut program ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring global lembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Ia menilai kerja sama internasional seperti ini penting untuk memperkaya praktik pendidikan di Indonesia.
Ia menambahkan, pengalaman di luar negeri dapat membuka wawasan baru bagi pengelola pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi Ma’arif. Dari pertukaran pengalaman itu, lembaga pendidikan diharapkan membawa pulang cara pandang baru untuk memperkuat mutu pembelajaran.
Salah satu peserta pelatihan mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari kegiatan ini. Ia menilai materi yang diterima memberi contoh konkret tentang bagaimana sains, teknologi, engineering, dan matematika dapat dipadukan dalam pembelajaran berbasis proyek.
Program di CCNU juga dipandang sebagai langkah untuk melahirkan peserta yang mampu menjadi agen perubahan di Jawa Tengah. Pengalaman belajar di Wuhan diharapkan dapat ditularkan kembali agar kualitas pembelajaran meningkat dan inovasi pendidikan sains serta teknologi terus berkembang di Indonesia.
Melalui inisiatif ini, PWNU dan Ma’arif Jawa Tengah kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat sumber daya manusia lewat pendidikan yang unggul, berdaya saing global, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Penguatan guru melalui pelatihan internasional dinilai bisa menjadi pintu masuk bagi kelas yang lebih adaptif dan siap menjawab kebutuhan peserta didik masa kini.
