Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan meninggal dunia, sementara satu warga Inggris harus mendapat perawatan serius. Kasus ini menyita perhatian karena gejala awal hantavirus kerap tampak seperti penyakit biasa, sehingga mudah diabaikan sampai kondisi memburuk.
Penyakit ini memang tergolong jarang, tetapi tidak bisa dianggap ringan. Saat tanda bahaya muncul, hantavirus dapat berkembang cepat dan memicu gangguan pada organ, sehingga penanganan medis segera menjadi sangat penting.
Kabar dari kapal milik Oceanwide Expeditions itu juga menunjukkan betapa seriusnya situasi di dalam kapal. Saat dilaporkan berada di lepas pantai Cape Verde, masih ada 149 orang dari 23 negara di dalamnya, sementara penyelidikan terhadap kematian para penumpang terus berjalan.
BBC News melaporkan bahwa seorang penumpang pertama kali jatuh sakit di atas kapal dan meninggal pada 11 April. Setelah kapal bersandar di Saint Helena pada 24 April, jenazah korban diturunkan, lalu istri korban yang ikut turun dari kapal juga dilaporkan meninggal saat perjalanan pulang.
Beberapa hari kemudian, seorang penumpang asal Inggris mengalami kondisi kritis dan dievakuasi medis ke South Africa. Menteri Kesehatan Afrika Selatan Aaron Motsoaledi menjelaskan pasien itu mendapat perawatan suportif karena belum ada obat khusus untuk hantavirus.
Di tengah penyelidikan, seorang penumpang asal Jerman juga dilaporkan meninggal dunia. Pihak operator kapal masih menelusuri penyebab kematian penumpang tersebut, sementara Organisasi Kesehatan Dunia ikut memantau perkembangan kasus.
Gejala yang sering disangka flu
Salah satu alasan hantavirus berbahaya adalah karena fase awalnya tidak selalu tampak khas. Kementerian Kesehatan menyebut gejala awal yang sering muncul meliputi demam, sakit kepala, badan lemas, dan rasa tidak nyaman pada tubuh.
Keluhan lain yang juga bisa muncul adalah nyeri punggung dan nyeri perut. Pada sebagian pasien, gejala itu disertai mual dan penurunan nafsu makan, sehingga mudah dikira sebagai infeksi biasa atau gangguan kesehatan ringan.
Karena tampak samar, kewaspadaan menjadi penting terutama bila ada riwayat berada di lingkungan yang berisiko. Gejala yang terlihat ringan tetap perlu dipantau serius jika sebelumnya ada paparan area yang banyak tikus.
Tanda bahaya saat penyakit berkembang
Hantavirus dapat berubah menjadi jauh lebih berat setelah fase awal. Kemenkes menyebut sebagian penderita bisa mengalami mata kemerahan dan ruam pada kulit, terutama bila sebelumnya berada di area yang banyak tikus.
Tanda yang lebih serius adalah gangguan pernapasan dan penurunan produksi urine. Kondisi ini dapat mengarah pada gangguan fungsi ginjal dan membutuhkan penanganan medis segera.
Secara klinis, Kementerian Kesehatan membagi hantavirus ke dalam dua bentuk utama, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, dan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah strain Seoul Virus yang umumnya memunculkan gejala tipe HFRS.
Sumber penularan dan langkah pencegahan
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat. Tikus disebut sebagai reservoir utama virus dari genus Orthohantavirus, termasuk tikus got, tikus rumah, tikus sawah, dan mencit rumah.
Penularan umumnya terjadi saat seseorang bersentuhan dengan air liur, urine, atau kotoran tikus. Virus juga bisa masuk ketika debu terkontaminasi terhirup melalui hidung atau mulut, atau saat mengenai mata dan luka terbuka di kulit.
Kementerian Kesehatan menekankan pengendalian hewan pengerat sebagai langkah utama pencegahan. Hal itu penting karena reservoir hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai habitat, mulai dari rumah, sawah, ladang, hingga hutan.
Langkah pencegahan yang disarankan meliputi menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, memakai alat pelindung saat membersihkan area yang dilewati tikus, serta membersihkan kotoran tikus dengan disinfektan. Masyarakat juga diminta tidak menyentuh tikus secara langsung dan rajin mencuci tangan setelah beraktivitas di area yang berisiko.
Kasus di kapal pesiar ini memperlihatkan bahwa hantavirus memang jarang, tetapi tetap perlu diwaspadai saat gejala muncul setelah paparan lingkungan yang terkontaminasi rodensia. Demam, sakit kepala, nyeri perut, mata kemerahan, gangguan pernapasan, dan berkurangnya urine menjadi sinyal penting untuk segera mencari pertolongan medis.
Source: lifestyle.bisnis.com






