Hantavirus Mengintai Di Kapal Pesiar Atlantik, Tiga Penumpang Meninggal Saat Pelayaran

Gejala hantavirus sering muncul tanpa disadari karena awalnya mirip keluhan umum seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, atau diare. Padahal, penyakit ini bisa berkembang menjadi kondisi berat dan dalam situasi tertentu berujung fatal, terutama bila paparan berasal dari hewan pengerat yang terinfeksi.

Sorotan terhadap hantavirus kembali menguat setelah tiga kematian di kapal pesiar MV Hondius dikaitkan dengan dugaan wabah penyakit tersebut di tengah pelayaran Atlantik. WHO mencatat satu kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek dalam peristiwa itu, sekaligus membantu koordinasi evakuasi medis bagi dua penumpang yang bergejala.

Kejadian di kapal pesiar memicu perhatian internasional

MV Hondius dioperasikan Oceanwide Expeditions dan memiliki kapasitas 170 penumpang di 80 kabin, ditambah 57 awak, 13 pemandu, dan satu dokter. Berdasarkan jadwal perusahaan, kapal itu berangkat dari Ushuaia di Argentina selatan pada 20 Maret dan dijadwalkan tiba di Cape Verde pada 4 Mei.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Afrika Selatan, Foster Mohale, menyebut ada sekitar 150 wisatawan dari berbagai negara di kapal tersebut. Dalam kejadian itu, seorang laki-laki dilaporkan tiba-tiba jatuh sakit dengan demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare sebelum meninggal saat tiba di Pulau St Helena.

Seorang perempuan juga jatuh sakit di kapal dan kemudian dievakuasi ke Afrika Selatan. BBC melaporkan perempuan itu meninggal di rumah sakit di Johannesburg setelah sempat mendapat perawatan intensif.

Mengapa hantavirus menjadi perhatian

Kasus ini menyoroti kembali hantavirus sebagai penyakit zoonosis yang berkaitan erat dengan hewan pengerat. Kementerian Kesehatan menjelaskan penyakit virus Hanta sebagai infeksi berbahaya yang disebarkan oleh rodensia, dengan virus berasal dari genus Orthohantavirus.

Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui urine atau feses hewan pengerat. Dalam kondisi tertentu, penularan juga bisa terjadi lewat gigitan atau cakaran, meski kejadian itu jarang.

Kemenkes menambahkan, risiko juga muncul ketika saliva, urine, atau feses reservoir mengenai kulit yang luka, membran mukosa mata, mulut, dan hidung. Aerosol berupa debu atau partikel halus yang terkontaminasi juga dapat menjadi jalur paparan.

Tanda awal yang perlu dicermati

US CDC menyebut hantavirus pulmonary syndrome atau HPS sebagai penyakit berat dan berpotensi mematikan yang menyerang paru-paru. Gejala biasanya muncul 1–8 minggu setelah kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.

Pada fase awal, keluhannya dapat berupa kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada paha, pinggul, punggung, dan kadang bahu. Sekitar separuh pasien juga mengalami sakit kepala, pusing, menggigil, mual, muntah, diare, serta nyeri perut.

Empat hingga 10 hari setelah fase awal, gejala lanjutan dapat muncul berupa batuk dan sesak napas. Karena itu, keluhan yang tampak seperti gangguan biasa tetap perlu diperhatikan bila ada riwayat paparan hewan pengerat.

Untuk hantavirus hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS, US CDC menyebut penyakit ini berat dan kadang mematikan karena menyerang ginjal. Gejalanya biasanya berkembang dalam 1–2 minggu setelah paparan, meski pada kasus jarang dapat muncul hingga 8 minggu.

Keluhan awal HFRS meliputi sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam atau menggigil, mual, dan penglihatan kabur. Pola ini membuat kewaspadaan dini sangat penting, terutama ketika gejala muncul setelah paparan lingkungan yang berisiko.

Reservoir utama dan langkah pencegahan

Tikus dan celurut disebut sebagai reservoir utama penyakit virus Hanta. Di Indonesia, jenis yang sudah terkonfirmasi sebagai reservoir meliputi Rattus norvegicus atau tikus got dan Rattus tanezumi atau tikus rumah.

Kemenkes juga mencatat sejumlah jenis lain yang dapat menjadi reservoir, termasuk Rattus tiomanicus, Rattus exulans, Rattus argentiventer, Mus musculus, Bandicota indica, dan Maxomys surifer. Kondisi ini membuat pengendalian tikus menjadi langkah penting di area padat aktivitas, termasuk tempat tertutup seperti kapal pesiar.

Pencegahan dimulai dari kebersihan rumah dan lingkungan. Kemenkes menyarankan penggunaan masker, sarung tangan, dan alas kaki saat membersihkan area yang dilalui hewan pengerat, lalu membersihkan kotoran, urine, dan sekreta tikus dengan disinfektan.

Kontak langsung dengan hewan pengerat, baik hidup maupun mati, juga harus dihindari. Pengelolaan sampah yang benar dan kebiasaan mencuci tangan ikut ditekankan, termasuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 40–60 detik atau memakai cairan antiseptik selama 20–30 detik.

Kemenkes mengingatkan penyakit virus Hanta berpotensi memicu wabah jika reservoirnya tidak dikendalikan. Karena itu, kebersihan lingkungan dan pengendalian tikus tetap menjadi kunci untuk menekan risiko penularan di ruang-ruang yang mempertemukan banyak orang dari berbagai negara.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait