Harga AP x Swatch Jauh Di Bawah Audemars Piguet, Antrean Tetap Mengular Di Gerai Swatch

Author: Redaksi Android62

Antrean panjang di sejumlah gerai Swatch menunjukkan bahwa yang diburu publik bukan hanya jam tangan, melainkan juga rasa memiliki terhadap nama besar di dunia luxury watch. AP x Swatch langsung menarik perhatian karena membawa identitas Audemars Piguet ke format yang jauh lebih terjangkau.

Gelombang minat itu terlihat jelas di Indonesia. Gerai Swatch di Pacific Place, Grand Indonesia, dan Kota Kasablanka Jakarta dipadati calon pembeli yang ingin lebih cepat mendapatkan koleksi tersebut.

Nama besar yang ikut dijual

Daya tarik utama koleksi ini ada pada nama Audemars Piguet. Brand asal Swiss itu sudah lama berada di posisi khusus dalam industri jam tangan mewah dan masuk dalam “holy trinity” bersama Patek Philippe dan Vacheron Constantin.

Status tersebut membuat setiap produk yang menempel pada namanya otomatis punya daya pikat besar. Ketika kolaborasi dengan Swatch hadir, citra eksklusif itu pun masuk ke ranah yang lebih dekat dengan publik.

Koleksi AP x Swatch hadir dalam lini “Royal Pop” yang terinspirasi dari desain ikonik Royal Oak milik Audemars Piguet. Dari sini, produk ini tidak hanya menjual jam, tetapi juga akses simbolis ke dunia yang biasanya terasa jauh.

Harga jauh di bawah lini utama AP

Di gerai resmi Swatch Indonesia, model Lépine Style dibanderol Rp 7.599.000. Sementara itu, model Savonnette dijual Rp 8.199.000.

Untuk ukuran produk Swatch, banderol tersebut tergolong tinggi. Namun, nilainya masih sangat jauh dari jam tangan utama Audemars Piguet yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Jarak harga itu menjadi salah satu alasan mengapa AP x Swatch dianggap menarik. Koleksi ini memberi kesan pintu masuk ke dunia prestige AP tanpa harus menyentuh level harga lini utamanya.

Delapan varian warna yang memancing antrean

AP x Swatch dirilis dalam delapan varian warna. Pilihannya terdiri dari Otto Rosso, Huit Blanc, Green Eight, Blaue Acht, Lan Ba, Otg Roz, Ocho Negro, dan Orenji Hachi.

Keragaman warna itu memperluas minat konsumen, terutama mereka yang ingin memilih model sesuai selera pribadi. Di saat yang sama, variasi tersebut ikut memperkuat kesan bahwa koleksi ini dibuat untuk memicu perbincangan luas.

Antrean di gerai Swatch pun tidak berdiri sendiri sebagai fenomena penjualan biasa. Kehadiran banyak varian justru membuat minat publik makin terkonsentrasi pada pengalaman mendapatkan koleksi lebih awal.

Hype yang melampaui fungsi jam tangan

Di media sosial, pembahasan soal AP x Swatch berkembang cepat lewat video antrean, unboxing, dan percakapan di TikTok serta X. Arus itu membuat rasa penasaran publik ikut naik dari waktu ke waktu.

Pada titik ini, FOMO menjadi bagian penting dari cerita. Banyak pembeli tidak semata mengejar fungsi jam tangan, tetapi ingin ikut berada di dalam tren yang sedang ramai dibicarakan.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan perubahan cara publik memandang barang mewah. Jika dulu luxury identik dengan jarak dan eksklusivitas, kini kolaborasi seperti AP x Swatch membuat simbol prestige bisa hadir dalam format yang lebih dekat.

Prestise brand tetap jadi magnet utama

Audemars Piguet sendiri masih punya banyak model yang terus dibicarakan kolektor. Salah satu yang pernah ramai adalah Royal Oak Concept Tourbillon “Michael Schumacher” Formula 1 Edition.

Di pasar kolektor internasional, beberapa model Audemars Piguet pernah muncul dengan nilai lebih dari Rp 4 miliar. Fakta itu ikut menjaga bayangan harga dan prestige merek ini tetap kuat, meski kolaborasinya dengan Swatch hadir di kelas yang lebih terjangkau.

Karena itu, yang membuat AP x Swatch begitu menarik bukan hanya desain atau harga jualnya. Nama besar yang melekat pada koleksi inilah yang membuat antrean panjang di gerai Swatch terasa seperti bagian dari perburuan simbol status, bukan sekadar pembelian jam tangan biasa.

Source: yoursay.suara.com
Berita Terbaru