Harga Aramco Lebih Tinggi dan Selat Hormuz Terganggu, Pasokan Minyak Saudi Ke China Tertekan

Author: Redaksi Android62

Pasokan minyak Arab Saudi ke China diperkirakan merosot tajam pada jadwal pengiriman Juni. Volume yang biasa menjadi perhatian pasar itu kini hanya sekitar 13 juta hingga 14 juta barel, jauh di bawah pengiriman Mei yang mencapai sekitar 20 juta barel.

Perubahan itu menandai tekanan yang datang bersamaan dari sisi keamanan pelayaran dan harga jual. Gangguan di Selat Hormuz membuat aliran minyak dari Teluk tidak lagi berjalan normal, sementara harga resmi Aramco yang lebih tinggi ikut menahan minat beli dari importir terbesar di dunia itu.

Rute pengiriman ikut berubah

Di tengah konflik di kawasan, akses di Selat Hormuz disebut tertutup untuk sebagian besar jalur pengiriman. Kondisi tersebut memaksa Arab Saudi memangkas total volume ekspor global dan mencari rute alternatif agar pasokan tetap bergerak.

Langkah yang paling menonjol adalah penggunaan terminal Yanbu di pesisir Laut Merah. Terminal ini dipakai untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional tanpa harus melewati jalur pelayaran yang terdampak konflik di wilayah Teluk.

Para pedagang menyebut seluruh muatan minyak mentah yang dijadwalkan tiba di China pada Juni akan dikirim melalui terminal Yanbu. Pergeseran ini menunjukkan penyesuaian besar pada rantai distribusi minyak Saudi saat ketegangan regional masih berlangsung.

Harga Aramco ikut menekan pembelian

Selain risiko pengiriman, tingkat harga juga menjadi penghambat. Untuk pengiriman Juni, harga jual resmi Aramco dipasang lebih tinggi dibanding harga pasar spot untuk jenis minyak mentah serupa di Timur Tengah.

Perbandingan itu mencakup Murban dari Abu Dhabi dan minyak mentah Oman. Saat premi minyak mentah di pasar fisik justru melemah dalam beberapa pekan terakhir, harga yang lebih mahal membuat pembeli semakin berhitung.

Situasi ini membuat daya saing minyak Saudi di pasar Asia ikut tertekan. China tetap menjadi pasar penting bagi Arab Saudi, sehingga perubahan volume pengiriman ke negara itu langsung menarik perhatian pelaku pasar.

Jauh di bawah pola normal

Jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pecahnya konflik Iran, penurunan itu terlihat sangat tajam. Dalam periode normal, ekspor Saudi ke China biasanya berada di kisaran 40 juta hingga 50 juta barel per bulan.

Estimasi 13 juta hingga 14 juta barel pada Juni menunjukkan pelemahan yang besar dari pola umum tersebut. Angka itu juga memperlihatkan bahwa gangguan keamanan dan strategi harga kini sama-sama menekan arus pasokan.

Hingga saat ini, Aramco belum memberikan pernyataan resmi atau menanggapi permintaan komentar terkait proyeksi penurunan ekspor tersebut. Pasar kini memantau apakah gangguan di Selat Hormuz akan berlanjut dan seberapa jauh dampaknya terhadap pasokan dari kawasan Teluk.

Berita Terbaru