Marco Rubio menolak anggapan bahwa harga bensin yang tinggi di dalam negeri akan membuat Amerika Serikat melunak terhadap Iran. Ia menegaskan Teheran tidak bisa memanfaatkan tekanan politik domestik di AS untuk memaksa Presiden menerima kesepakatan yang buruk.
Sikap itu memperlihatkan bahwa Gedung Putih tetap memisahkan persoalan harga energi dari arah kebijakan luar negerinya terhadap Iran. Di saat pasar bahan bakar global masih tertekan, Washington justru mengirim pesan bahwa kenaikan harga di pompa bensin tidak otomatis mengubah posisi politiknya.
Rubio menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan NBC News, seperti dilaporkan RIA Novosti. Dalam pernyataannya, ia juga menyebut pemerintah AS telah mengambil langkah besar untuk menjaga harga bensin tetap lebih rendah dibandingkan banyak wilayah lain di dunia.
Data American Automobile Association atau AAA menunjukkan harga rata-rata bensin di Amerika Serikat mencapai 4,53 dolar AS per galon pada 14 Mei 2026. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan memanasnya konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang ikut mengguncang distribusi minyak global.
Ketegangan itu tidak hanya terasa di pasar domestik Amerika Serikat. Gangguan pada jalur pengiriman minyak dan gas membuat pergerakan harga bahan bakar di sejumlah negara ikut tertekan, terutama karena pasar energi dunia masih sangat sensitif terhadap situasi di Timur Tengah.
Salah satu titik paling rawan berada di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute vital bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global, sehingga setiap gangguan di sana langsung memengaruhi kelancaran pasokan energi dunia.
Konflik militer antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran turut memperburuk situasi. Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Saling serang itu menjaga risiko eskalasi tetap tinggi dan menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Upaya meredakan keadaan pun belum menghasilkan terobosan. Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April 2026, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas.
Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan agar Iran punya waktu menyampaikan “proposal terpadu”. Namun, dari perkembangan yang ada, belum terlihat tanda bahwa tekanan harga bahan bakar akan mengubah sikap Amerika Serikat dalam berhadapan dengan Iran.
