Cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan bawang putih menjadi komoditas yang paling terasa menekan belanja warga di pasar tradisional Batam. Di sejumlah titik, kenaikan harga empat bahan dapur itu bahkan sudah menembus lebih dari 50 persen.
Lonjakan paling jelas terlihat di Pasar Jodoh, Pasar Tos 3000, dan Pasar Cipta Puri Tiban. Di pasar-pasar itu, pedagang dan pembeli sama-sama harus berhadapan dengan harga yang bergerak cepat, sementara stok yang datang tidak lagi selancar biasanya.
Kenaikan besar pada komoditas harian
Data acuan harga di Batam menunjukkan cabai rawit berada di Rp40.000 dengan kenaikan 55 persen. Cabai merah tercatat Rp38.000 dengan kenaikan 52 persen, sedangkan bawang merah berada di Rp30.000 dengan kenaikan 55 persen.
Bawang putih juga ikut terkerek ke Rp25.000 dengan kenaikan 52 persen. Tomat tercatat di Rp18.000 dengan kenaikan 39 persen, sementara sayuran hijau bergerak di kisaran 20 hingga 40 persen.
Pasokan tersendat dari awal rantai jual
Di Pasar Jodoh, pedagang menyebut harga sudah tinggi sejak barang datang dari agen. Amir, 36, mengatakan pedagang hanya bisa mengikuti kondisi harga yang sudah mahal di tingkat distributor sebelum barang masuk ke lapak.
Situasi serupa terjadi di Pasar Tos 3000. Aminah, 34, menilai keterlambatan pasokan membuat harga mudah melonjak, terutama ketika stok yang masuk terbatas.
Bagi pedagang, kondisi seperti itu mempersempit ruang untuk mempertahankan harga lama. Saat pasokan melambat, harga jual cepat menyesuaikan karena barang yang tersedia tidak cukup banyak untuk menahan tekanan pasar.
Biaya kirim ikut memberi dorongan
Di Pasar Cipta Puri Tiban, kenaikan harga disebut lebih stabil dibanding dua pasar lain, tetapi tekanan biaya tetap terasa. Joni, 55, menyebut ongkos kirim yang naik ikut mendorong harga bawang dan cabai di tingkat konsumen.
Kondisi itu tidak lepas dari posisi Batam yang bergantung pada pasokan dari luar daerah. Setiap gangguan kecil pada jalur distribusi langsung terbaca pada harga harian di pasar.
Nilai tukar menambah beban pedagang
Sejumlah pelaku pasar juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran Rp17.500–Rp17.600 per dolar AS. Pergerakan ini dinilai ikut menambah beban biaya, terutama untuk distribusi dan logistik barang kebutuhan pokok.
Dengan harga beli yang sudah tinggi dan ongkos distribusi yang terus bergerak, pedagang menghadapi tekanan ganda. Di sisi lain, konsumen juga harus menyesuaikan belanja harian ketika harga kebutuhan pokok naik dalam waktu singkat.
Para pedagang berharap ada langkah stabilisasi harga agar gejolak di pasar tradisional Batam tidak terus berlanjut. Selama pasokan belum lancar dan ongkos distribusi masih tinggi, cabai, bawang, dan komoditas harian lain diperkirakan tetap sensitif terhadap perubahan harga di kota ini.
Source: mediaindonesia.com






