Harga Emas Antam Tetap Rp 2,805 Juta Saat Emas Dunia Terkoreksi Dan Tekanan Global Meningkat

Author: Redaksi Android62

Harga emas batangan Antam tidak bergerak pada perdagangan Jumat (24/4/2026) dan tetap berada di level Rp 2.805.000 per gram. Pada saat yang sama, harga buyback juga bertahan di Rp 2.610.000 per gram, sehingga pasar domestik terlihat lebih tenang di tengah tekanan yang justru datang dari pasar emas global.

Kondisi ini menjadi menarik karena emas dunia justru mengalami koreksi pada periode yang sama. Di pasar spot, emas ditutup di US$ 4.690,3 per troy ons, turun 1,04 persen dan menjadi level terendah sejak awal April.

Harga emas Antam kompak stagnan di berbagai pecahan

Tidak hanya ukuran 1 gram yang bertahan, seluruh pecahan emas Antam juga tercatat tidak berubah. Pola ini terlihat mulai dari ukuran kecil hingga besar, sehingga pergerakan harga di dalam negeri belum ikut terseret pelemahan emas internasional.

Untuk pecahan 0,5 gram, harga emas Antam berada di Rp 1.452.500. Sementara itu, ukuran 10 gram dipatok Rp 27.545.000 dan emas 100 gram dijual Rp 274.712.000.

Pada pecahan yang lebih besar, emas 250 gram tercatat Rp 686.515.000. Adapun emas batangan 1.000 gram dibanderol Rp 2.745.600.000.

Daftar pecahan lain juga tidak berubah

Stabilnya harga terlihat juga pada pecahan yang banyak dilirik pembeli. Emas ukuran 2 gram tercatat Rp 5.550.000, lalu 3 gram Rp 8.300.000, dan 5 gram Rp 13.800.000.

Untuk ukuran 25 gram, harganya berada di Rp 68.737.000. Sedangkan pecahan 50 gram dijual Rp 137.395.000, dan emas 500 gram tercatat Rp 1.372.820.000.

Rangkaian harga itu menunjukkan bahwa pasar domestik belum mengikuti arah koreksi yang terjadi di pasar global. Di sisi lain, harga emas Antam 1 gram tetap berada di Rp 2.805.000.

Tekanan global datang dari sentimen geopolitik dan suku bunga

Pelemahan emas dunia muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan langkah pengamanan di Selat Hormuz melalui unggahan di media sosial dan menyebut telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menindak seluruh kapal yang mencoba keluar dari perairan selat tersebut.

Situasi itu ikut mendorong harga minyak mentah jenis Brent naik 3,1 persen menjadi US$ 105,07 per barel. Kenaikan minyak kemudian memunculkan risiko inflasi yang lebih besar, sehingga ruang penurunan suku bunga acuan menjadi lebih sempit.

Bagi pasar emas, kondisi tersebut memberi sinyal yang bercampur. Emas memang kerap dicari saat geopolitik memanas, tetapi ekspektasi suku bunga tinggi dapat mengurangi minat investor terhadap aset ini.

Alasan emas ikut tertekan meski ketegangan belum reda

Emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Karena itu, ketika suku bunga masih bertahan tinggi, sebagian investor cenderung memilih aset lain yang memberi keuntungan bunga.

Itulah salah satu alasan mengapa harga emas global terkoreksi walaupun ketegangan geopolitik belum mereda. Pasar tampak lebih fokus pada dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral.

Iran sendiri masih menolak negosiasi dengan Amerika Serikat selama blokade di perairan internasional belum dicabut. Situasi ini membuat pelaku pasar tetap memantau perkembangan kawasan Timur Tengah, sementara harga emas Antam di dalam negeri sejauh ini masih bertahan tanpa perubahan.

Berita Terbaru