Harga Minyak Naik Saat Iran Tahan Hormuz, Diplomasi Damai Kembali Buntu

Author: Redaksi Android62

Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menunjukkan kendali atas jalur pelayaran sempit itu dan menahan dua kapal yang disebut mencoba melintas tanpa izin. Langkah tersebut langsung menambah kekhawatiran karena selat ini menjadi rute penting bagi sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.

Dampaknya tidak berhenti di kawasan Teluk. Pasar global ikut bereaksi, harga minyak bergerak naik, dan investor memantau ketat perkembangan konflik yang kini kembali menempatkan jalur energi paling vital di dunia dalam posisi rawan.

Selat yang jadi titik tekan

Selat Hormuz selama ini bukan sekadar jalur laut biasa. Bagi Iran, ruang sempit ini juga berubah menjadi alat tekanan politik ketika hubungan dengan Amerika Serikat kembali memburuk dan pembicaraan damai tidak menghasilkan terobosan.

Teheran menyatakan tidak akan membuka kembali selat itu selama Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Iran. Pernyataan itu memperjelas bahwa penguasaan atas Hormuz dipakai untuk memberi sinyal kuat kepada lawan-lawannya.

Aksi di laut dan pesan dari Teheran

Tayangan media negara memperlihatkan pasukan bertopeng Iran mendekati kapal kargo besar MSC Francesca dengan speedboat abu-abu. Setelah itu, mereka tampak memanjat lambung kapal sambil membawa senjata sebelum tayangan lain menampilkan kapal Epaminondas yang menurut Iran juga telah dikuasai pada Rabu.

Di sisi lain, pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa langkah terhadap kapal dagang yang diserang sudah berada dalam kerangka “hukum”. Ketua kehakiman Gholamhossein Mohseni-Ejei juga menyebut speedboat dan drone laut Iran berlindung di gua-gua laut dekat sebuah pulau di sekitar selat, sehingga kapal perang Amerika Serikat tidak dapat mendekat.

Wakil ketua parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menambahkan bahwa pendapatan pertama dari tarif yang dipungut Iran atas kapal yang menggunakan selat telah ditransfer ke bank sentral. Ia tidak menjelaskan siapa yang membayar atau berapa besar jumlahnya, tetapi pernyataan itu memperkuat kesan bahwa Teheran ingin menunjukkan otoritas penuh atas jalur tersebut.

Rundingan damai yang gagal memberi hasil

Ketegangan makin tajam setelah pembicaraan damai terhenti pada Selasa, hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir. Situasi itu membuat arah diplomasi menjadi tidak jelas, sementara pengamanan jalur pelayaran juga ikut berada dalam tanda tanya.

Seorang sumber senior Iran kepada Reuters mengatakan Teheran masih mungkin hadir dalam pertemuan di Pakistan. Namun, syarat yang dibawa tetap sama, yakni blokade Amerika Serikat harus dicabut dan kapal-kapal Iran yang disita wajib dibebaskan.

Pakistan, yang menjadi tuan rumah pembicaraan bulan ini, masih berkomunikasi dengan kedua pihak setelah putaran kedua batal digelar. Akan tetapi, sumber pemerintah Pakistan menyebut pejabat Iran belum bersedia memastikan pengiriman delegasi karena blokade Amerika Serikat dan sejumlah alasan lain.

Saling tekan dari Washington dan Teheran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui unggahan di Truth Social mengatakan telah memerintahkan Angkatan Laut untuk “shoot and kill” kapal-kapal Iran yang memasang ranjau di selat itu. Ia juga meminta peningkatan aktivitas penjinakan ranjau, meski unggahan tersebut tidak menjelaskan cara menghadapi taktik lain yang dipakai Iran seperti speedboat, rudal, dan drone.

Amerika Serikat sebelumnya juga menyatakan sedang menghadapi kapal-kapal Iran di perairan internasional untuk menegakkan blokadenya sendiri. Di saat yang sama, Washington mengatakan telah menaiki tanker Majestic di Samudra Hindia, yang diduga merujuk pada supertanker Phonix dengan muatan 2 juta barel minyak mentah.

Langkah saling tekan ini membuat situasi di Hormuz semakin rumit. Selat yang sempit itu kini tidak hanya diperebutkan sebagai jalur pelayaran, tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan alat tawar dalam konflik yang belum menemukan titik temu.

Pasar ikut merasakan getarannya

Perebutan pengaruh di Hormuz cepat terasa di pasar keuangan. Harga minyak kembali naik, sementara saham turun di Jepang, Hong Kong, Inggris, dan Jerman pada perdagangan Kamis, meski di Korea Selatan dan Prancis justru menguat.

Brent naik 0,5% menjadi $102.40 per barel, mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan di jalur minyak utama itu belum dekat dengan penyelesaian. Dalam kondisi seperti ini, setiap kabar dari Hormuz langsung memengaruhi sentimen investor yang masih waspada terhadap ancaman terhadap pasokan energi global.

Di tengah tekanan itu, Amerika Serikat belum mencapai tujuan awal perang yang diumumkan Trump, termasuk melemahkan kemampuan Iran menyerang negara tetangga dan menghentikan program nuklirnya. Iran tetap mempertahankan rudal, drone, dan cadangan uranium yang diperkirakan badan atom PBB melebihi 400 kg, sehingga Selat Hormuz tetap menjadi salah satu instrumen tekanan paling kuat yang dimiliki Teheran.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru