Harga minyak dunia belum melonjak tajam meski serangan antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut. Stabilitas ini berlangsung saat Selat Hormuz dan jalur pelayaran regional menjadi pusat perhatian pasar energi.
Kontrak Brent berjangka naik tipis 0,08 persen menjadi 84,30 dollar AS per barrel pada pukul 06.32 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga menguat 0,2 persen ke 79,11 dollar AS per barrel.
| Jenis Minyak | Pergerakan | Harga per Barrel |
|---|---|---|
| Brent berjangka | Naik 0,08 persen | 84,30 dollar AS |
| WTI AS | Naik 0,2 persen | 79,11 dollar AS |
Kenaikan terbatas itu menunjukkan pasar belum membentuk lonjakan harga baru di tengah konflik yang berkembang. Namun, kondisi tersebut tidak menghapus risiko terhadap pasokan minyak dan kelancaran pengiriman di kawasan Teluk.
Selat Hormuz Menjadi Titik Risiko
Selat Hormuz kembali mendapat sorotan karena berkaitan langsung dengan aktivitas pelayaran komersial. Ketidakpastian bertambah setelah menara pengawasan maritim di Chabahar dilaporkan menjadi salah satu lokasi yang diserang.
Iran menyatakan fasilitas tersebut digunakan untuk memantau pelayaran komersial di Selat Hormuz. Gangguan pada infrastruktur pengawasan maritim dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan rute laut.
AS menyebut serangan ke Iran dilakukan untuk melindungi lalu lintas maritim. Sebaliknya, Teheran menilai serangan tersebut telah memperlambat proses perundingan damai.
Konflik Mempersempit Ruang Diplomasi
Ketegangan meningkat setelah AS melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Menurut Al Jazeera yang dikutip Kompas.com, serangan AS pada malam ketujuh berturut-turut menyasar jembatan dan infrastruktur energi Iran. Pejabat di Hormuzgan juga menyatakan satu serangan memutus pasokan air ke sejumlah kota dan desa di Iran selatan.
Seorang pejabat Teheran yang tidak disebutkan namanya memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat meluas ke wilayah lain. Kepada Iran International, pejabat itu mengatakan AS diduga telah memasukkan sejumlah target dalam daftar serangan.
Ancaman dari Laut Merah
Kepala analis pasar KCM Trade Tim Waterer menilai ancaman di Laut Merah turut memperumit prospek minyak global. Perhatian investor tidak hanya tertuju pada harga harian, melainkan juga pada kemungkinan terganggunya arus pasokan.
“Potensi ancaman Laut Merah menjadi titik gangguan pasokan utama lainnya semakin memperumit prospek minyak global,” kata Waterer. Pernyataan itu mencerminkan besarnya sensitivitas pasar terhadap risiko di jalur pelayaran energi.
Komando Pusat AS di Timur Tengah, US CENTCOM, menyatakan akan melanjutkan serangan guna mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Perkembangan konflik dan keamanan jalur laut selanjutnya akan tetap menjadi faktor yang menentukan arah harga minyak dunia.
Source: money.kompas.com






