Pasar minyak dunia kembali bergejolak setelah gangguan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar terhadap arus pasokan energi. Dalam sepekan, harga minyak mentah melonjak hingga 16 persen dan pelaku pasar langsung menyorot jalur pelayaran yang selama ini menjadi salah satu titik paling penting dalam distribusi minyak internasional.
Tekanan itu terlihat jelas pada pergerakan harga acuan. Refinitiv mencatat Brent ditutup di level US$105,33 per barel, sedangkan Al Jazeera melaporkan harga sempat mencapai US$106,80 per barel pada Jumat dini hari.
Lalu lintas kapal menyusut tajam
Kondisi pasar makin sensitif karena aktivitas kapal komersial di Selat Hormuz ikut menurun. Platform Windward mencatat hanya sembilan kapal komersial yang melintas pada Rabu, 22 April 2026, angka yang sangat jauh dari kondisi normal ketika ratusan kapal melewati wilayah itu setiap hari.
Penyusutan lalu lintas tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa gangguan pasokan tidak akan selesai dalam waktu singkat. Selat Hormuz memang memegang peran vital bagi arus energi dunia, sehingga setiap hambatan di kawasan ini cepat tercermin pada harga minyak.
Penahanan kapal ikut menambah tekanan
Situasi di lapangan juga menjadi lebih tegang setelah Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC disebut menahan dua kapal kargo asing, yakni MSC Francesca dan Epaminondas. Peristiwa ini membuat pelaku pasar menilai risiko terhadap kelancaran suplai masih tinggi.
Di tengah kondisi seperti itu, harga minyak menjadi sangat mudah bereaksi terhadap kabar baru dari kawasan Teluk. Bahkan ketika ada koreksi harian, pasar tetap bergerak liar karena sentimen geopolitik belum mereda.
West Texas Intermediate atau WTI tercatat berada di US$94,40 per barel setelah turun 1,5 persen dalam perdagangan harian. Pergerakan itu menunjukkan pasar masih berada dalam fase yang rapuh dan penuh ketidakpastian.
Efeknya merambat ke aset lain
Lonjakan minyak tidak berhenti di pasar komoditas. Kenaikan tersebut ikut mendorong penguatan dolar AS dan emas, dua aset yang umumnya diburu saat ketegangan meningkat.
Head of Equity AllianzGI Indonesia, Octavius Prakarsa, menilai pergerakan ketiga aset itu saling berkaitan dalam membentuk arah pasar. “Penguatan dolar AS dapat menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap rupiah dan arus dana di pasar negara berkembang, yang dapat memengaruhi saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga dan berorientasi domestik. Namun, fundamental makro Indonesia yang relatif kuat membantu meredam volatilitas tersebut,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa dampak kenaikan minyak tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi juga di pasar mata uang dan saham. Dalam situasi yang belum stabil, investor cenderung menahan langkah sambil menunggu perkembangan yang lebih jelas dari kawasan tersebut.
Implikasi bagi pasar Indonesia
Bagi Indonesia, harga minyak yang lebih tinggi membawa pengaruh yang tidak sederhana. Di satu sisi, sektor energi berpotensi diuntungkan karena harga komoditas menguat, tetapi di sisi lain beban subsidi juga bisa ikut meningkat.
Octavius menilai pasar saham Indonesia masih tergolong tangguh, meski selisih kinerja antar sektor bisa makin lebar. “Dalam situasi seperti ini, kami melihat pasar saham Indonesia tetap relatif tangguh, meskipun akan terjadi perbedaan kinerja yang semakin lebar antar sektor,” katanya.
Karena itu, pemilihan saham menjadi semakin penting bagi investor. Eksposur selektif pada saham energi dan komoditas disebut bisa memberi manfaat diversifikasi sekaligus berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
“Eksposur selektif pada saham energi dan komoditas dapat memberikan manfaat diversifikasi sekaligus berfungsi sebagai hedging terhadap inflasi. Saat ini, pemilihan saham aktif dan rotasi sektor menjadi kunci,” ujar Octavius.
Diplomasi masih dicoba di tengah ketegangan
Di saat pasar mencermati risiko suplai minyak, jalur diplomasi tetap berjalan. Presiden AS Donald Trump mengutus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.
Langkah itu muncul ketika pasar membaca adanya kemungkinan Iran mengajukan tawaran untuk memenuhi tuntutan Amerika Serikat demi meredakan konflik. Namun selama situasi di Selat Hormuz belum kembali stabil, harga minyak diperkirakan tetap sangat peka terhadap setiap perkembangan politik dan keamanan di kawasan Teluk.







