Harga minyak dunia kembali melemah tajam dan turun lebih dari 1% pada perdagangan Kamis. Brent dan WTI sama-sama menyentuh posisi terendah sejak awal konflik Iran pada Maret 2026, seiring pasar menilai peluang pulihnya pasokan dari kawasan Teluk semakin besar.
Kontrak minyak mentah Brent turun US$ 1,02 atau 1,28% menjadi US$ 78,53 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI AS melemah US$ 1,48 atau 1,93% ke level US$ 75,31 per barel.
Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama
Tekanan jual muncul setelah pasar merespons kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan 14 poin itu membuka masa negosiasi selama 60 hari dan dinilai memberi peluang lebih cepat bagi pemulihan arus energi global.
Dalam periode tersebut, Iran akan mengizinkan pelayaran melalui Selat Hormuz tanpa hambatan biaya tambahan. Jalur itu merupakan salah satu rute paling penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia.
Kesepakatan juga menargetkan lalu lintas di Selat Hormuz kembali ke kapasitas penuh dalam 30 hari. Namun, pembahasan belum tuntas karena isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran, masih akan dibahas dalam tahap berikutnya.
Pasar menghitung kembalinya minyak Iran
Menurut Analis Pasar IG Tony Sycamore, pasar energi agresif memperhitungkan pemulihan pasokan minyak Iran yang lebih cepat dari perkiraan setelah nota kesepahaman terbaru itu tercapai. Reuters mengutip Sycamore yang menyebut tekanan jual berlanjut karena pasar terus menilai dampaknya terhadap pasokan.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat dan negara mitranya diminta menyiapkan paket pendanaan sekitar US$ 300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran. Rangkaian poin tersebut membuat pelaku pasar melihat gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk berpotensi mereda lebih cepat.
Harga turun ke level terendah sejak awal Maret
Brent tercatat berada di level terendah sejak 2 Maret 2026, yaitu hari perdagangan pertama setelah serangan awal AS dan Israel terhadap Iran. Adapun WTI menyentuh titik terendah sejak 4 Maret 2026.
Pergerakan ini menunjukkan pasar lebih cepat merespons prospek normalisasi pasokan dibandingkan risiko konflik yang sebelumnya mendorong harga naik. Meski begitu, sejumlah analis menilai penurunan masih akan terbatas karena permintaan global tetap kuat.
Pemulihan diperkirakan bertahap
Sejumlah pelaku industri memperkirakan distribusi energi melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap. Di sisi lain, cadangan energi yang terkuras selama konflik juga perlu diisi kembali sehingga tekanan turun pada harga minyak tidak diperkirakan terlalu dalam.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk akan kembali ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli 2026. Bank itu juga memproyeksikan produksi minyak mentah pulih sepenuhnya pada Oktober 2026.
Bank investasi tersebut menilai normalisasi ekspor dapat terjadi jika arus minyak melalui Selat Hormuz meningkat sekitar 13 juta barel per hari dari posisi saat ini hingga mencapai sekitar 70% dari kapasitas sebelum konflik.
Batas bawah harga masih dijaga pasar
BNP Paribas menilai harga minyak belum akan kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat. Bank itu memperkirakan Brent di kisaran US$ 75 per barel menjadi batas bawah yang relatif kuat karena gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang dan permintaan energi masih tinggi.
Sebelum konflik Iran pecah, harga Brent sempat bergerak di kisaran US$ 60-US$ 70 per barel sepanjang dua bulan pertama 2026. Kondisi itu menunjukkan pasar minyak kini berada dalam rentang harga yang lebih tinggi, dengan arah jangka pendek sangat bergantung pada negosiasi AS-Iran dan laju pemulihan arus minyak dari Teluk.
