Harga Pertamax Melonjak, DPR Soroti Stimulus untuk Menahan Tekanan Daya Beli

Author: Redaksi Android62

Penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter memunculkan perhatian serius di DPR karena pemerintah disebut tengah menyiapkan stimulus untuk meredam tekanan daya beli masyarakat. Kenaikan itu dinilai berpotensi memicu efek lanjutan pada inflasi, meski besaran dampaknya masih dihitung.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi hampir selalu berpengaruh pada harga-harga di tingkat bawah. Namun, ia menilai dampak Pertamax berbeda dari BBM untuk industri karena pengguna utamanya adalah pemilik kendaraan pribadi.

Efek inflasi dinilai belum setajam BBM industri

Menurut Misbakhun, tekanan dari Pertamax tidak sebesar bahan bakar yang dipakai untuk kegiatan produksi, angkutan umum, atau distribusi barang. Meski begitu, pemerintah dan DPR tetap mencermati kemungkinan efek tidak langsung yang muncul setelah harga naik.

Ia juga menyoroti kemungkinan sebagian konsumen berpindah dari Pertamax ke Pertalite ketika harga naik. Perpindahan itu dinilai wajar karena masyarakat cenderung mencari bahan bakar yang lebih murah saat terjadi penyesuaian harga.

“Pasti, orang kan begitu harga naik, orang akan mencari harga yang paling rendah,” ujar Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Stimulus masih dikaji bersama pemerintah

DPR bersama pemerintah telah membahas perlunya stimulus untuk menahan dampak kenaikan harga Pertamax. Akan tetapi, bentuk bantuan yang paling tepat belum diputuskan karena pemerintah masih menghitung efek lanjutan dari penyesuaian harga tersebut.

Misbakhun mengatakan perhitungan detail masih dilakukan untuk melihat sejauh mana perpindahan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Hasil kajian itu akan menjadi dasar untuk menentukan apakah stimulus perlu diberikan dalam bentuk insentif sektor tertentu atau skema lain yang lebih tepat sasaran.

Ia menambahkan bahwa pengguna Pertamax berada berdekatan dengan kelompok pengguna Pertalite, sehingga kebutuhan stimulus harus dikaji secara cermat. Menurut dia, diskusi mengenai stimulus itu sudah berlangsung dan kini masuk tahap penghitungan dampak.

Harga BBM nonsubsidi ikut disesuaikan

PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga Pertamax RON 92 dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Harga Pertamax Green 95 juga naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian BBM nonsubsidi dilakukan setelah evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tetap tidak berubah, dengan Pertalite masih Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 ditetapkan sebesar Rp 381,3 triliun untuk BBM, LPG 3 kg, dan listrik. Besaran anggaran itu kini ikut menjadi perhatian dalam pembahasan dampak penyesuaian harga BBM terhadap masyarakat dan kebijakan perlindungan daya beli ke depan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru