Kenaikan harga RAM dan penyimpanan memaksa Nothing menghentikan pengembangan penerus CMF Phone 2 Pro. Keputusan itu menunjukkan betapa kerasnya tekanan biaya yang kini menekan ponsel murah.
Informasi tersebut disampaikan oleh salah satu pendiri Nothing, Akis Evangelidis, melalui unggahan di platform X pada Jumat (19/6/2026). Dalam pernyataannya, ia mengatakan perusahaan sempat mengembangkan penerus perangkat itu, tetapi proyeknya akhirnya dihentikan.
Evangelidis menegaskan, Nothing tidak melihat cara yang masuk akal untuk menghadirkan penerus yang benar-benar lebih baik tanpa meninggalkan harga khas lini CMF. Pada saat yang sama, harga memori yang sedang naik membuat target itu semakin sulit dicapai.
Tekanan paling berat di segmen terjangkau
CMF Phone 2 Pro sendiri dikenal sebagai ponsel terjangkau dengan desain khas Nothing. Saat diluncurkan, perangkat ini dibanderol sekitar 279 dollar AS, sehingga perubahan kecil pada biaya komponen dapat langsung memengaruhi strategi harga.
Di kelas seperti ini, produsen punya ruang gerak yang sempit. Kenaikan ongkos RAM dan penyimpanan membuat mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau menahan peningkatan spesifikasi agar margin tetap aman.
Dalam sekitar 18 bulan terakhir, harga berbagai jenis memori dilaporkan naik tajam. Kenaikan itu tidak hanya menyentuh RAM, tetapi juga media penyimpanan berbasis flash yang lazim dipakai di smartphone.
| Faktor | Dampak bagi ponsel murah |
|---|---|
| Harga RAM naik | Biaya produksi ikut terdorong |
| Harga penyimpanan naik | Ruang untuk menjaga harga rendah makin sempit |
| Target spesifikasi lebih baik | Semakin sulit dicapai tanpa menaikkan harga |
Ledakan AI ikut mengubah peta permintaan
Lonjakan harga memori disebut berkaitan erat dengan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan yang melonjak. Perusahaan teknologi besar kini berlomba membangun pusat data dan sistem AI yang membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah sangat besar.
Nama-nama seperti Amazon, Microsoft, Meta, dan Alphabet disebut berada di tengah gelombang investasi tersebut. Kebutuhan mereka ikut menggeser permintaan komponen di pasar teknologi global.
Ketika permintaan dari sektor AI meningkat, produsen chip dan pemasok memori cenderung memprioritaskan komponen dengan margin lebih tinggi untuk server. Kondisi itu membuat perangkat konsumen seperti smartphone harus bersaing lebih keras untuk memperoleh pasokan.
Situasi ini menjadi lebih berat karena produsen elektronik konsumen berhadapan dengan perusahaan teknologi bernilai triliunan dollar AS. Akibatnya, tekanan biaya lebih cepat terasa pada produk yang sensitif terhadap harga, termasuk ponsel kelas terjangkau.
Sinyal baru untuk pasar ponsel murah
Kasus Nothing dinilai sebagai tanda bahwa pasar smartphone murah mulai memasuki fase yang lebih sulit. Selama ini, segmen ini tumbuh karena produsen masih bisa menawarkan peningkatan fitur dengan harga yang tetap menarik.
Namun, saat biaya memori terus naik, pola itu menjadi makin sulit dipertahankan. Produsen tidak bisa begitu saja menambah kapasitas memori atau memperbarui spesifikasi lain tanpa memindahkan beban biaya ke konsumen.
Dampaknya juga diperkirakan tidak berhenti pada smartphone. Sejumlah analis menilai harga tablet dan komputer pribadi berpotensi ikut terdorong naik dalam beberapa tahun ke depan karena mahalnya komponen.
Sampai saat ini, Nothing belum mengungkap apakah pembatalan tersebut akan diganti dengan perangkat lain. Perusahaan juga belum memberi kepastian apakah mereka akan menunggu sampai pasar memori kembali lebih stabil.
Dengan demikian, masa depan penerus CMF Phone 2 Pro masih terbuka. Yang sudah pasti, lonjakan harga RAM kini bukan lagi sekadar urusan di balik layar, melainkan faktor yang cukup besar untuk menghentikan rencana peluncuran ponsel baru.
Source: tekno.kompas.com






