Harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit di sejumlah daerah mulai menunjukkan perbaikan setelah Kementerian Pertanian bergerak mengawal pemulihan harga. Meski begitu, para petani menilai kenaikan itu belum sepenuhnya merata dan masih perlu dijaga agar tidak berhenti di wilayah tertentu saja.
Di berbagai sentra sawit, petani menyampaikan kondisi yang beragam, mulai dari harga yang sudah mendekati acuan hingga daerah yang masih tertinggal jauh dari harga layak. Masukan itu mengemuka dalam rapat koordinasi di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, ketika perwakilan petani dari Sumatra Selatan, Lampung, Sumatra Utara, hingga Banten memaparkan situasi masing-masing.
Harga mulai bergerak, petani melihat tanda pemulihan
Ardiansyah Saragih, petani sawit dari Serdang Bedagai, Sumatra Utara, menilai perhatian pemerintah memberi harapan baru bagi petani kecil. Ia melihat harga sawit yang sempat turun dalam kini mulai naik kembali.
Optimisme itu juga dikaitkan dengan penjelasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengenai kenaikan harga CPO dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya permintaan ekspor. Menurut Ardiansyah, rangkaian faktor tersebut memberi sinyal bahwa ruang pemulihan harga masih terbuka.
Kondisi di daerah belum sama
Di Sumatra Selatan, Septriadi menilai harga TBS yang mengikuti acuan Dinas Perkebunan sudah tergolong layak. Ia menyebut harga sawit umur lima tahun berada di sekitar Rp3.499 per kilogram.
Namun, ia juga menyoroti masih adanya petani yang menjual panen ke tengkulak karena tidak masuk skema pembelian perusahaan mitra. Situasi itu membuat harga yang diterima petani di lapangan jauh lebih rendah dibanding acuan resmi.
Lampung Tengah menghadapi persoalan serupa. Hulibarawan mengatakan harga TBS di wilayahnya berada di kisaran Rp3.200 per kilogram, mendekati harga standar provinsi sebesar Rp3.350 per kilogram.
Ia mengingatkan bahwa beberapa waktu lalu harga sempat turun mendadak hampir Rp1.000 per kilogram. Bagi petani, perubahan tajam seperti itu membuat pendapatan sulit diprediksi dan perencanaan usaha menjadi lebih berat.
Banten masih memerlukan pengawasan harga
Dari Banten, Aryadi, petani asal Pandeglang, menyampaikan kondisi yang masih lebih berat dibanding daerah lain. Harga TBS di tingkat pabrik berada di kisaran Rp2.500 per kilogram, tetapi pendapatan bersih petani mengecil setelah dipotong biaya panen, angkut, dan kebutuhan operasional lain.
Meski begitu, ia mengakui harga mulai berangsur naik setelah ada dorongan Kementerian Pertanian kepada perusahaan dan pabrik kelapa sawit untuk menaikkan harga kembali. Ia menilai kehadiran pemerintah tetap dibutuhkan agar daerah yang belum memiliki mekanisme penetapan harga yang kuat tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Pemerintah diminta menjaga pemulihan tetap merata
Amran menegaskan pemerintah akan terus mengawal pemulihan harga TBS agar manfaat kenaikan harga komoditas sawit global benar-benar dirasakan petani. Ia juga menekankan bahwa tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan dengan mengorbankan kesejahteraan petani.
“Kita ingin membangun ekosistem sawit yang sehat. Petani sejahtera, pengusaha juga sejahtera,” kata Amran. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa pemulihan harga tidak hanya ditujukan untuk perbaikan sementara, tetapi juga untuk menata hubungan yang lebih seimbang di sektor sawit.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri petani, asosiasi, pelaku usaha, eksportir, perusahaan refinery, Satgas Pangan Polri, serta jajaran pemerintah daerah. Forum itu menjadi ruang untuk menyerap aspirasi petani sekaligus memastikan perbaikan harga berjalan lebih merata di seluruh sentra sawit nasional.
Para petani berharap pengawasan tidak berhenti pada kenaikan sesaat. Mereka menginginkan kebijakan yang cukup kuat untuk menjaga harga tetap wajar, menekan praktik jual beli yang merugikan, dan memberi kepastian pendapatan bagi petani kecil.
Source: mediaindonesia.com






