Hilirisasi Rp 116 Triliun Digarap DPR, Harapan Baru Nilai Tambah Dan Lapangan Kerja

Author: Redaksi Android62

Percepatan 13 proyek hilirisasi fase II yang dikelola Danantara Indonesia kini mendapat dukungan penuh dari DPR RI. Nilai investasinya mencapai Rp 116 triliun dan proyek ini mencakup sektor energi, baja, hingga perkebunan.

Dukungan tersebut menguat setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan rangkaian proyek strategis itu. Bagi DPR, dimulainya pengerjaan fisik menjadi tanda bahwa pemerintah serius mendorong lahirnya nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai hilirisasi bukan sekadar agenda industri biasa. Ia melihat program ini sebagai bagian dari perubahan cara Indonesia mengelola kekayaan alam agar tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

Menurut Misbakhun, pesan presiden sangat kuat karena hilirisasi memberi nilai tambah pada produk-produk alam, termasuk mineral dan pertanian. Karena itu, DPR memandang fase II ini sebagai instrumen ekonomi jangka panjang yang bisa memperkuat struktur industri nasional.

Harapan pada pertumbuhan dan lapangan kerja

Dari sisi pelaksanaan, Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini menekankan bahwa fase kedua hilirisasi membutuhkan strategi yang matang. Ia menilai keberhasilan program ini akan membawa harapan besar dari publik, terutama pada pertumbuhan ekonomi dan serapan tenaga kerja.

Anggia melihat proyek-proyek tersebut tidak hanya menambah kapasitas industri. Jika berjalan sesuai rencana, program ini juga akan memicu efek berganda bagi aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

DPR pun menempatkan hilirisasi sebagai agenda yang harus memberi dampak nyata bagi perekonomian nasional. Fokusnya bukan semata pembangunan fasilitas, melainkan hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat dan pasar kerja.

Dukungan dari kalangan pekerja

Dukungan terhadap hilirisasi juga datang dari Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Arief Poyuono. Ia menilai program ini dapat menjadi fondasi kemandirian ekonomi Indonesia.

Arief menyoroti pentingnya penguatan nilai tambah di dalam negeri agar hasil pertumbuhan ekonomi tidak mengalir keluar negeri. Ia juga mengkritik kebiasaan lama saat sumber daya alam diekspor dalam bentuk mentah.

Menurut dia, menjual bahan mentah sama saja dengan melepas potensi pertumbuhan ekonomi ke negara lain. Karena itu, hilirisasi harus menjadi jalan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri global.

Modal, teknologi, dan SDM menjadi penentu

Arief menambahkan bahwa keberhasilan jangka panjang hilirisasi bergantung pada tiga hal penting, yaitu penguasaan teknologi, investasi besar, dan kualitas sumber daya manusia di bidang STEM. Ketiganya disebut sebagai syarat agar proyek pengolahan dapat berjalan stabil dan berkelanjutan.

Ia juga menilai Danantara Indonesia perlu menjadi lembaga pembiayaan yang kuat untuk menopang pembangunan fasilitas pengolahan seperti smelter. Dukungan kelembagaan dianggap penting supaya proyek tidak berhenti pada seremoni.

Dalam pandangannya, hilirisasi harus benar-benar melahirkan kapasitas industri baru. Arief menyebut program ini sebagai cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia berdaulat secara ekonomi.

Pembangunan masih sesuai jalur

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memastikan pembangunan 13 proyek tersebut masih berjalan sesuai jadwal. Fokus utama diarahkan pada sektor mineral dan energi untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah.

Arah kebijakan itu menunjukkan bahwa hilirisasi fase II berdiri sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk memperkuat struktur industri domestik. Investasi jumbo dan dukungan lintas pihak kini menjadi tumpuan agar nilai tambah dari sumber daya alam benar-benar tertahan di dalam negeri.

Berita Terbaru