Honda Siap Catat Rugi Tahunan Pertama, Strategi Mobil Listriknya Ditekan Ulang

Author: Redaksi Android62

Honda sedang menghadapi tekanan besar dari arah bisnis yang selama ini digadang-gadang sebagai masa depan perusahaan. Strategi kendaraan listrik yang meleset membuat produsen asal Jepang itu diperkirakan mencatat rugi operasional tahunan pertamanya sejak melantai di bursa pada 1957.

Untuk tahun fiskal 2025 yang berakhir pada Maret 2026, Honda diperkirakan membukukan rugi operasional sekitar 400 miliar yen atau setara Rp 44,8 triliun. Beban terbesar datang dari restrukturisasi dan penurunan nilai investasi di sektor EV, dengan total beban terkait bisnis kendaraan listrik disebut mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 148 triliun.

Strategi yang dipangkas

Tekanan itu membuat Honda mulai mengoreksi arah elektrifikasinya. Perusahaan kini mengurangi eksposur di pasar mobil listrik dan kembali menempatkan kendaraan hybrid sebagai fokus utama.

Langkah tersebut menandai perubahan besar dari target sebelumnya yang cukup agresif. CEO Honda Toshihiro Mibe juga dikabarkan membatalkan target lama yang ingin membuat mobil listrik menyumbang 20 persen penjualan global pada 2030.

Proyek besar yang ditahan

Salah satu keputusan paling mencolok terlihat pada rencana fasilitas produksi kendaraan listrik dan baterai di Kanada. Proyek senilai US$11 miliar atau sekitar Rp 181 triliun itu semula disiapkan sebagai pusat produksi Honda di Amerika Utara.

Namun rencana besar tersebut kini ditahan tanpa batas waktu. Melemahnya permintaan dan perubahan kebijakan insentif di Amerika Serikat membuat Honda menekan ekspansi itu.

Bisnis motor masih menjadi penopang

Di tengah tekanan pada bisnis mobil, Honda masih mendapat bantuan dari sektor lain. Bisnis sepeda motor justru menjadi penopang karena penjualan di India dan Brasil tetap kuat.

Kinerja dua pasar itu membantu menjaga performa perusahaan saat lini mobil listrik tertekan. Honda bahkan mencatat rekor penjualan sepeda motor global lebih dari 22 juta unit.

Persaingan makin berat di China

Selain masalah strategi, Honda juga menghadapi tantangan dari pasar China. Penjualan di negara tersebut turun drastis dalam beberapa tahun terakhir seiring dominasi merek lokal, terutama produsen kendaraan listrik.

Kondisi itu membuat ruang gerak Honda makin sempit di tengah persaingan yang terus berubah. Perusahaan kini terlihat memilih menata ulang langkah elektrifikasinya agar tidak kembali terjebak pada investasi besar yang belum memberi hasil sesuai harapan.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru