Hong Kong Menyalip Singapura di Kuartal II, Investasi Indonesia Capai Rp1.010,6 Triliun

Hong Kong untuk pertama kalinya dalam satu dekade menjadi investor terbesar Indonesia dalam satu triwulan. Pada triwulan II 2026, nilai investasinya mencapai US$5,5 miliar dan melampaui Singapura.

Pergeseran tersebut terjadi ketika realisasi investasi nasional sepanjang semester I 2026 menembus Rp1.010,6 triliun. Angka itu setara 49,5% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun dan tumbuh 7,2% secara tahunan.

Hong Kong Memimpin pada Triwulan II

Sepanjang semester I 2026, Singapura masih berada di posisi teratas dengan nilai investasi US$8,8 miliar. Hong Kong berada di urutan kedua dengan US$7,8 miliar, disusul Tiongkok US$3,9 miliar, Jepang US$1,9 miliar, dan Amerika Serikat US$1,7 miliar.

Negara atau WilayahNilai Investasi Semester I 2026
SingapuraUS$8,8 miliar
Hong KongUS$7,8 miliar
TiongkokUS$3,9 miliar
JepangUS$1,9 miliar
Amerika SerikatUS$1,7 miliar

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyebut investasi Tiongkok kini lebih agresif masuk melalui Hong Kong. Menurutnya, perubahan itu turut mendorong posisi Hong Kong sebagai investor terbesar pada triwulan II.

Rosan menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers di Kantor Presiden pada Kamis (16/7). Ia juga menilai minat investor asing tetap terjaga karena pemerintah terus mendorong perbaikan iklim usaha, penyederhanaan regulasi, dan kepastian perizinan.

Hilirisasi Menjadi Penopang Utama

Investasi hilirisasi menyumbang 29,7% dari total realisasi investasi nasional pada semester I 2026. Kontribusi itu naik 6,9% dibandingkan tahun sebelumnya, setelah porsinya masih berada di kisaran 24-25% pada 2023.

Komoditas HilirisasiNilai Investasi
MineralRp206,5 triliun
Perkebunan dan kehutananRp54,4 triliun
Minyak dan gas bumiRp35,4 triliun
Perikanan dan kelautanRp3,8 triliun

Sektor mineral masih mendominasi investasi hilirisasi, tetapi sebarannya tidak terpusat di Pulau Jawa. Sebanyak 75,7% investasi hilirisasi berada di luar Jawa, terutama di Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Pemerintah juga mulai melihat perubahan komoditas dalam proyek pengolahan mineral. Pada triwulan II 2026, bauksit naik ke posisi pertama seiring pembangunan industri pengolahannya, sementara nikel sebelumnya lebih sering menjadi komoditas utama.

Arah hilirisasi ke depan akan diperluas ke sejumlah komoditas lain. Kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, serta minyak dan gas bumi termasuk sektor yang disebut akan didorong untuk menghasilkan nilai tambah lebih besar.

Persebaran Investasi Makin Seimbang

Realisasi modal dalam negeri mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8% dari total investasi semester I. Sementara itu, penanaman modal asing mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2%.

Investasi di luar Jawa sedikit lebih besar daripada di Jawa, masing-masing Rp507,8 triliun dan Rp502,8 triliun. DKI Jakarta tetap menjadi tujuan terbesar dengan kontribusi 17,2% dari total realisasi.

Wilayah atau ProvinsiNilai atau Porsi
DKI Jakarta17,2% dari total investasi
Jawa BaratRp138,1 triliun
Jawa TimurRp72,7 triliun
Sulawesi TengahRp68,7 triliun
BantenRp66,3 triliun

Untuk investasi asing, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau menjadi wilayah luar Jawa yang banyak menerima modal. Investasi di ketiga daerah tersebut terutama berkaitan dengan sektor mineral.

Industri Logam Masih Terbesar

Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya mencatat investasi terbesar. Nilainya mencapai Rp150,4 triliun atau 14,9% dari total investasi semester I 2026.

Jasa lainnya, termasuk pembangunan pusat data, menyusul dengan nilai Rp114 triliun atau 11,3%. Pertambangan mencatat Rp105 triliun, sedangkan kawasan industri dan perkantoran mencapai Rp85,5 triliun.

Transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi juga menjadi penopang dengan porsi sekitar 10,2%. Secara keseluruhan, realisasi investasi pada triwulan II mencapai Rp511,8 triliun, naik 7,1% dan menyerap 742.263 tenaga kerja.

Jika dihitung sepanjang semester I, investasi tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Capaian itu menunjukkan arus modal tetap berjalan meski tekanan geopolitik dan geoekonomi global belum sepenuhnya mereda.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait