Hormuz Terancam Ditutup, Iran Hentikan Pertukaran Pesan Dengan Amerika Serikat

Author: Redaksi Android62

Ancaman penutupan Selat Hormuz kini menjadi titik paling sensitif dalam eskalasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat. Tasnim melaporkan bahwa tim negosiasi Teheran menghentikan pertukaran pesan dengan Washington melalui mediator, sementara Iran dan Front Perlawanan disebut sudah menyusun agenda untuk menutup total selat itu dan mengaktifkan front lain, termasuk Selat Bab El Mandeb.

Selat Hormuz memegang peran vital karena menjadi jalur pasokan global untuk minyak dan gas alam cair. Tasnim menyebut Iran secara efektif telah menutup jalur itu, dan dampaknya mulai terasa lewat kenaikan harga energi secara global.

Di saat yang sama, saluran komunikasi antara Teheran dan Washington justru makin merenggang. Penghentian pertukaran pesan melalui mediator terjadi ketika upaya diplomatik masih terus dicoba untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama tiga bulan dan meluas dampaknya ke kawasan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menambah tekanan dengan pernyataan di X pada Senin. Ia menulis bahwa pelanggaran di satu front berarti pelanggaran gencatan senjata di semua front, lalu menuduh Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran, sambil merujuk pada operasi Israel di Lebanon.

Selain Hormuz, Selat Bab El Mandeb ikut masuk dalam peta eskalasi. Jalur di lepas pantai Yaman itu menjadi penting karena merupakan titik sempit bagi lalu lintas laut menuju Terusan Suez, sehingga pembukaan front baru di sana dapat memperluas gangguan terhadap perdagangan maritim.

Tasnim menambahkan bahwa jika Houthi, sekutu Iran di Yaman, membuka front baru, Bab El Mandeb menjadi sasaran yang jelas. Kombinasi ancaman terhadap dua selat penting ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap arus kapal dan pasokan energi bisa meluas dengan cepat bila konflik makin dalam.

Di sisi politik, tuntutan Teheran juga terlihat makin keras. Pejabat Iran dan para negosiator disebut menekankan penghentian segera operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon, serta penarikan penuh Israel dari wilayah pendudukan di لبنان sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan.

Situasi ini membuat ruang untuk meredakan konflik terlihat semakin sempit. Perang yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari disebut telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, sekaligus memicu tekanan ekonomi global setelah gangguan di Selat Hormuz mendorong harga energi naik.

Berita Terbaru