HP Bekas Ternyata Masih Mumpuni, Google Uji Server Murah untuk Kampus

Author: Redaksi Android62

Google bersama peneliti University of California San Diego (UCSD) tengah menguji cara baru memanfaatkan smartphone bekas sebagai server berbiaya rendah. Pendekatan ini ditujukan untuk pusat data skala kecil dan dinilai bisa membantu lembaga pendidikan memangkas biaya komputasi.

Yang membuatnya menarik, ponsel lawas yang selama ini dianggap usang ternyata masih menyimpan kemampuan komputasi yang layak dipakai. Google Research menilai memperpanjang masa pakai perangkat juga lebih ramah lingkungan karena jejak karbon dari proses produksi ponsel tidak langsung berakhir saat perangkat berhenti dipakai.

Performa ponsel lawas masih cukup bersaing

Tim peneliti menemukan bahwa ponsel berusia sekitar tiga tahun masih punya tenaga yang tidak bisa diremehkan. Dalam pengujian SPEC benchmark, performa single-core perangkat tersebut bahkan tercatat lebih tinggi daripada sejumlah prosesor server kelas data center.

Perbandingan itu melibatkan Pixel serta beberapa platform server seperti Asus RS720A-E11 yang dapat dipasangi GPU Nvidia H200 atau Nvidia RTX Pro 6000, ditambah dua prosesor AMD EPYC. Hasil ini tidak berarti smartphone mengungguli server secara keseluruhan, tetapi menunjukkan perangkat lama masih sanggup menangani beban kerja tertentu.

Perangkat / Platform Catatan Pengujian Hasil Umum
Pixel SPEC benchmark, single-core Tercatat lebih tinggi dari sejumlah prosesor server
Asus RS720A-E11 Dapat dipasangi Nvidia H200 atau Nvidia RTX Pro 6000 Termasuk pembanding di kelas server
AMD EPYC Dua prosesor server ikut dibandingkan Server konvensional tetap unggul dalam performa total

Smartphone dirombak menjadi node komputasi

Untuk mengubah ponsel menjadi server, perangkat lebih dulu dibongkar dan dipreteli dari komponen yang tidak dibutuhkan. Layar, baterai, kamera, speaker, dan rangka dilepas, sementara motherboard yang memuat system-on-chip atau SoC tetap dipertahankan.

Setelah itu, Android diganti dengan Linux yang lazim dipakai di lingkungan server. Dengan sistem baru ini, perangkat dapat menjalankan perangkat lunak orkestrasi seperti Kubernetes dan berfungsi sebagai node komputasi dalam sebuah klaster.

Pendekatan tersebut membuat satu smartphone tidak bekerja sendirian, melainkan menjadi bagian dari kumpulan perangkat yang saling berbagi tugas. Dari pengujian yang dilakukan, sekitar 25 hingga 50 smartphone bekas dapat menghasilkan daya komputasi setara satu prosesor server dual-socket.

Target paling masuk akal ada di lingkungan pendidikan

UCSD menyebut klaster berisi 20 smartphone bekas sudah cukup untuk menjalankan satu aplikasi pembelajaran bagi lebih dari 75 siswa sekaligus tanpa bergantung pada layanan cloud berbayar. Skema ini memberi peluang bagi kampus, sekolah, laboratorium penelitian, dan organisasi kecil untuk tetap memiliki akses komputasi tanpa biaya infrastruktur yang besar.

Di tengah kenaikan harga chip memori dan penyimpanan, memanfaatkan perangkat yang sudah ada menjadi alternatif yang relevan. Tim peneliti juga berencana membangun data center lokal yang terdiri dari sekitar 2.000 smartphone bekas untuk melayani kebutuhan ratusan kelas secara bersamaan.

Bukan pengganti pusat data raksasa

Meski terdengar menjanjikan, sistem ini tidak ditujukan untuk perusahaan teknologi besar. Para peneliti mengakui solusi berbasis smartphone bekas kemungkinan tidak cocok untuk Google, Microsoft, atau Nvidia yang memerlukan perangkat keras khusus dengan tingkat keandalan sangat tinggi.

Kebutuhan perusahaan besar berbeda jauh dari kampus atau organisasi kecil karena mereka membutuhkan performa besar, konsistensi tinggi, dan infrastruktur yang memang dirancang untuk beban kerja masif. Nilai utama proyek ini justru ada pada pemanfaatan ulang perangkat yang masih layak pakai, tetapi tidak lagi digunakan sebagai ponsel.

Tim UCSD menargetkan sistem penuh dapat mulai beroperasi tahun ini, sambil terus menguji ketahanan komponen smartphone untuk penggunaan jangka panjang sebagai perangkat server. Jika stabil, pendekatan ini bisa menjadi fondasi komputasi murah yang lebih ramah lingkungan bagi banyak lembaga kecil.

Source: tekno.kompas.com
Berita Terbaru