Perubahan formula Harga Patokan Mineral atau HPM untuk nikel mulai menarik perhatian pelaku industri karena aturan baru ini membuka peluang kenaikan harga bijih di pasar domestik. Namun, dampak nyatanya belum terlihat jelas karena pasar masih berada dalam fase menunggu penyesuaian.
PT Vale Indonesia Tbk. menjadi salah satu pihak yang kini mencermati perubahan tersebut dengan hati-hati. Perseroan menyebut masih mempelajari teknis penerapan kebijakan baru yang mulai berlaku pada 15 April 2026.
Chief Financial Officer Vale Indonesia, Rizky Andhika Putra, mengatakan perubahan ini baru berjalan sekitar satu minggu. Karena itu, respons pasar dinilai belum cukup terbaca untuk menarik kesimpulan yang kuat.
Pasar masih menunggu arah harga
Sampai saat ini, Vale belum mencatat transaksi penjualan bijih nikel baru sejak HPM terbaru resmi diberlakukan. Sikap ini menunjukkan perusahaan masih menunggu mekanisme pasar bergerak lebih jelas sebelum mengambil langkah transaksi berikutnya.
Rizky menilai harga memang berpotensi naik, tetapi penyesuaian di pasar biasanya tidak terjadi seketika. Perusahaan memilih untuk tidak terburu-buru dan tetap mengamati bagaimana aturan baru itu diterapkan di lapangan.
Kehati-hatian tersebut juga berkaitan dengan Keputusan Menteri ESDM No. 144/2026 yang menjadi dasar kebijakan baru itu. Vale menilai pemahaman atas teknis penerapannya penting agar langkah operasional berikutnya selaras dengan skema yang benar-benar berjalan.
Apa yang berubah dalam formula HPM
Perubahan paling penting pada HPM baru terletak pada dasar perhitungannya. Jika sebelumnya formula hanya mengacu pada kadar nikel, kini mineral ikutan juga masuk dalam perhitungan harga.
Besi, kobalt, dan krom menjadi unsur tambahan yang ikut menentukan nilai HPM. Perubahan ini membuat formula baru berbeda dari skema sebelumnya dan berpotensi menggeser harga pembentukan bijih nikel di pasar domestik.
Di tengah masa transisi itu, sejumlah proyeksi pasar menilai harga bijih nikel bisa mengalami penguatan yang cukup besar. Shanghai Metals Market atau SMM memperkirakan HPM baru untuk bijih nikel kadar 1,2% dapat naik hingga 151% menjadi US$40,18/wmt.
Meski demikian, Vale belum melihat cukup transaksi yang bisa dipakai sebagai dasar untuk mengukur dampak riil perubahan tersebut. Karena itu, perusahaan masih berada dalam posisi memantau, bukan langsung menyesuaikan aktivitas jual beli secara agresif.
Proyek hilir tetap jalan
Di saat mencermati perubahan HPM, Vale tetap melanjutkan tiga proyek strategis Indonesia Growth Project atau IGP di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako. Total investasi untuk ketiga proyek itu mencapai US$8,5 miliar.
Pomalaa menjadi proyek dengan nilai terbesar, yakni US$4,5 miliar. Hingga April 2026, progres konstruksi pabriknya telah mencapai 65%, sedangkan pembangunan tambangnya berada di level 72%.
Berikut perkembangan utama proyek yang disampaikan perseroan:
- IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara, investasi US$4,5 miliar, kapasitas 120.000 ton/tahun MHP, target operasi Agustus 2026.
- IGP Morowali di Sulawesi Tengah, investasi US$2 miliar, kapasitas 66.000 ton/tahun MHP, target operasi 2026.
- IGP Sorowako, kapasitas 60.000 ton/tahun MHP, target operasi 2027.
Blok Bahodopi di Morowali juga masih bergerak. Area seluas 22.699 hektare itu telah beroperasi sejak kuartal I-2025 dan mencatat penjualan bijih 2,2 juta ton pada awal 2026.
Sementara itu, proyek HPAL Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan masih berada pada tahap awal pengembangan. Progres pembangunannya baru mencapai 18%, sehingga proyek tersebut masih membutuhkan waktu lebih panjang sebelum mendekati fase operasi.
Perubahan formula HPM kini menjadi salah satu faktor penting bagi Vale karena dapat memengaruhi harga jual bijih, ritme transaksi, dan perencanaan produksi di tengah proyek hilir yang sedang dibangun. Dengan pasar yang masih menunggu arah penyesuaian, perusahaan harus terus membaca perkembangan kebijakan sekaligus menata langkah operasionalnya secara cermat.







