Hujan Masih Menopang Tanam Padi, Pemerintah Siapkan Pompa Hadapi El Nino Godzilla

Pemerintah masih melihat ruang bagi petani untuk tetap menanam di tengah ancaman El Nino Godzilla. Di sejumlah wilayah, hujan yang belum benar-benar berhenti membuat lahan pertanian masih bisa dikerjakan dan siklus tanam tetap berjalan.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan kondisi itu terlihat dari pemantauan langsung ke beberapa daerah penghasil pangan. Daerah yang dipantau meliputi Sumatera Selatan, Jambi, dan Jawa Tengah, sementara laporan serupa juga datang dari Kalimantan.

Hujan masih bantu lahan tetap produktif

Sudaryono menilai kekeringan ekstrem belum dirasakan secara signifikan di sebagian wilayah. Pasokan air hujan yang masih tersedia membuat sawah dan lahan pertanian tetap mendapat dukungan air, setidaknya untuk sementara.

Ia menyebut intensitas hujan di sejumlah tempat masih cukup baik. Kondisi inilah yang membuat petani belum sepenuhnya terdesak oleh cuaca kering yang dikhawatirkan mengganggu produksi pangan.

Bagi petani, situasi tersebut memberi peluang untuk menjaga masa tanam tetap bergerak. Selama hujan masih turun, lahan bisa dimanfaatkan tanpa harus menunggu terlalu lama.

Petani mengejar momentum setelah panen

Sudaryono menjelaskan bahwa banyak petani tidak ingin melewatkan waktu saat hujan masih tersedia. Begitu panen selesai, mereka cenderung langsung menyiapkan tanam kembali agar lahan tidak menganggur.

Pola itu muncul karena petani ingin memaksimalkan sisa musim hujan yang ada. Dengan cara tersebut, biaya tambahan untuk pengairan juga bisa ditekan selama air hujan masih dapat diandalkan.

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa petani terus menyesuaikan langkah dengan kondisi cuaca. Selama ancaman kekeringan belum menekan secara penuh, aktivitas tanam masih dijaga agar produksi tidak terputus.

Pemantauan diarahkan ke wilayah sentra pangan

Langkah pemantauan dilakukan untuk memastikan kesiapan petani dan melihat apakah antisipasi terhadap potensi kekeringan benar-benar berjalan. Pemerintah ingin memperoleh gambaran awal mengenai kondisi air dan risiko gangguan iklim di lahan pertanian.

Karena itu, pengecekan difokuskan ke daerah-daerah yang dikenal sebagai penghasil pangan. Hasil pantauan dari beberapa wilayah tersebut menjadi dasar untuk menilai seberapa jauh ancaman cuaca kering mulai memengaruhi aktivitas pertanian.

Sudaryono menyebut data lapangan dari berbagai daerah penting untuk membaca situasi secara lebih utuh. Dengan begitu, respons pemerintah bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah yang memang tidak sama.

Mitigasi tetap disiapkan meski dampak belum besar

Meski dampaknya belum terasa besar di lapangan, pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi. Rujukan utama yang dipakai adalah prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG.

Sejumlah skenario disiapkan, termasuk pengadaan puluhan ribu mesin pompa untuk membantu pengairan sawah. Selain itu, jaringan irigasi di wilayah rawan air juga akan dioptimalkan agar suplai air tetap terjaga jika kondisi memburuk.

Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan ratusan bupati di seluruh Indonesia. Langkah ini disiapkan supaya respons di daerah bisa lebih cepat saat pasokan air mulai menurun.

Sudaryono menegaskan bahwa antisipasi perlu dilakukan sejak awal. Ia menggambarkan ancaman itu dengan menyebut, “Bayangkan, El Nino-nya Godzilla. Keluar api dari mulutnya. Jadi kita udah bayang betapa kerasnya.”

Kerja bersama dinilai jadi kunci

Dalam penanganan ancaman iklim, Sudaryono menilai kerja bersama tidak bisa dihindari. Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan HKTI diminta bergerak searah agar persoalan di lapangan tidak ditangani sendiri-sendiri.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi sulit tidak seharusnya memunculkan saling menyalahkan. Menurutnya, yang dibutuhkan justru kebersamaan untuk memikirkan langkah paling tepat menghadapi tekanan iklim.

Pendekatan itu dianggap penting karena kondisi cuaca di tiap daerah berbeda. Ada wilayah yang masih mendapat hujan cukup baik, tetapi ada juga wilayah yang lebih rentan jika musim kering semakin kuat.

Dukungan anggaran untuk pompanisasi

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun untuk program pompanisasi. Dana tersebut diarahkan terutama bagi lahan sawah tadah hujan agar tetap dapat berproduksi saat kekeringan ekstrem datang.

Amran juga menyebut Kementerian Pertanian berkomitmen mengerahkan 80.000 unit pompa untuk mendukung strategi itu. Program ini menjadi salah satu upaya utama menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman perubahan iklim yang masih dipantau ketat.

Selama hujan masih turun di sejumlah daerah, pemerintah memilih tetap bergerak cepat sambil memantau kondisi lapangan. Fokusnya tetap pada ketersediaan air, kelancaran tanam petani, dan upaya menjaga produksi pangan agar tidak terganggu saat tekanan El Nino Godzilla menguat.

Berita Terkait