Hyundai Peringatkan Tekanan Kurs Bisa Dorong Harga Mobil Dan Cicilan Naik

Pelemahan rupiah mulai menimbulkan perhatian serius di industri otomotif karena dampaknya tidak berhenti di biaya impor. Hyundai Motor Indonesia menilai tekanan kurs juga bisa ikut mendorong harga mobil dan bunga kredit naik, terutama di pasar yang sangat bergantung pada pembiayaan.

Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dollar AS. Posisi itu menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap biaya produksi hingga skema cicilan kendaraan.

Chief Operating Officer Hyundai Motor Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan pelemahan rupiah memang dapat memengaruhi industri otomotif secara umum. Ia menilai, jika nilai tukar terus melemah hingga berada di kisaran 17.500, bunga akan terdorong naik secara hukum ekonomi.

Pembiayaan jadi titik yang paling sensitif

Dalam pasar otomotif Indonesia, perubahan kecil pada bunga kredit bisa cepat terasa oleh konsumen. Kondisi ini menjadi lebih penting karena pembelian mobil masih banyak ditopang lewat cicilan, sehingga tekanan di sektor pembiayaan langsung memengaruhi minat beli.

Fransiscus menyebut struktur pasar mobil domestik sangat sensitif terhadap perubahan biaya pembiayaan. Karena itu, pelemahan rupiah tidak hanya menjadi isu bagi pelaku industri, tetapi juga bagi konsumen yang mengandalkan kredit untuk membeli mobil.

BI-Rate masih menjadi penahan

Di tengah tekanan kurs, Hyundai melihat masih ada penyangga dari sisi kebijakan. Pemerintah dinilai berupaya menjaga perputaran ekonomi dengan mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate di level 4,75 persen.

Selama bunga tetap dijaga, tekanan terhadap konsumen belum akan sebesar dampak yang dikhawatirkan jika suku bunga ikut terkerek. Namun, Hyundai tetap menilai pasar otomotif domestik sangat bergantung pada kondisi pembiayaan yang stabil.

Daya beli konsumen ikut disorot

Bagi Hyundai, menjaga BI-Rate tetap rendah menjadi bagian penting untuk menopang daya beli masyarakat. Pandangan itu muncul karena pembelian mobil di pasar domestik banyak ditopang kredit, sehingga perubahan pada biaya pembiayaan bisa berdampak langsung pada keputusan pembelian.

Fransiscus mengatakan pemerintah sedang berusaha menahan tekanan agar ekonomi tetap bergerak. Upaya itu disebut layak diapresiasi oleh pelaku industri yang kini menghadapi pelemahan kurs dan tekanan ekonomi global.

Hyundai juga berharap pasar otomotif nasional tetap bertahan di tengah situasi tersebut. Perusahaan menilai keberlanjutan pasar bergantung pada keseimbangan antara biaya, pembiayaan, dan minat beli konsumen.

Tekanan kurs merembet ke harga mobil

Pelemahan rupiah sensitif bagi industri otomotif karena sebagian komponen kendaraan masih bergantung pada impor. Ketergantungan itu mencakup bahan baku hingga teknologi tertentu yang belum sepenuhnya dipasok dari dalam negeri.

Saat kurs melemah, biaya pengadaan komponen impor berpotensi naik. Tekanan tersebut dapat menjalar ke biaya produksi atau distribusi, lalu memengaruhi harga kendaraan baru di pasar domestik.

Selain harga mobil, fluktuasi kurs juga dapat memengaruhi skema cicilan kredit mobil. Jika pelemahan rupiah mendorong kenaikan bunga, beban pembiayaan konsumen ikut meningkat dan penjualan bisa tertekan.

Sikap hati-hati dari Hyundai

Hingga saat ini, Hyundai belum menyampaikan penyesuaian harga atau strategi komersial tertentu. Fokus pernyataannya masih pada apresiasi terhadap upaya pemerintah menjaga iklim ekonomi tetap bergerak.

Fransiscus menegaskan langkah itu penting agar pasar tetap bertahan. Ia juga berharap industri otomotif nasional mampu melewati tekanan yang muncul sepanjang tahun ini.

Sikap tersebut menunjukkan pendekatan hati-hati dari Hyundai. Di satu sisi, perusahaan mengakui pelemahan rupiah bisa berdampak nyata, tetapi di sisi lain masih melihat ruang penyangga dari kebijakan suku bunga yang belum berubah.

Source: otomotif.kompas.com

Berita Terkait