ICP Naik Di Atas Asumsi, Bahlil Pastikan APBN 2026 Masih Kuat

Pemerintah menilai tekanan dari kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) belum mengganggu kekuatan fiskal negara. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut postur APBN masih berada dalam kondisi aman selama ICP belum menembus US$ 100 per barel.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Ia menegaskan bahwa perkembangan harga minyak dunia terus dipantau karena berdampak langsung pada belanja energi sekaligus pendapatan negara.

ICP Masih Di Atas Asumsi, Tapi Belum Jadi Ancaman Besar

Bahlil menjelaskan, rata-rata ICP dari Januari hingga April berada di level US$ 77 per barel. Angka itu lebih tinggi US$ 7 dibanding asumsi dalam APBN yang dipatok US$ 70 per barel.

Meski ada selisih, pemerintah belum melihat kondisi tersebut sebagai ancaman serius bagi rancangan fiskal. Selama harga minyak belum bergerak sampai US$ 100 per barel, APBN dinilai masih mampu menyerap dampaknya.

Pasokan Energi Disebut Tetap Terjaga

Selain soal fiskal, pemerintah juga menyoroti kondisi pasokan energi di dalam negeri. Bahlil menyebut stok solar, bensin, dan LPG masih berada di atas standar minimum nasional.

Keterangan ini penting karena gejolak harga minyak di pasar global kerap memunculkan kekhawatiran soal ketersediaan energi. Dengan stok yang aman, pemerintah menilai distribusi energi nasional masih berjalan normal.

Berikut poin utama yang disampaikan pemerintah:

  1. Rata-rata ICP Januari hingga April berada di level US$ 77 per barel.
  2. Asumsi ICP dalam APBN ditetapkan sebesar US$ 70 per barel.
  3. APBN masih dianggap aman selama ICP belum mencapai US$ 100 per barel.
  4. Stok BBM dan LPG berada di atas standar minimum.
  5. Harga BBM bersubsidi tetap dijaga hingga akhir tahun.

Harga BBM Bersubsidi Tetap Dijaga

Pemerintah juga mempertahankan harga jual eceran BBM bersubsidi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat.

Langkah tersebut dinilai penting bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Saat biaya energi bergerak naik, harga BBM yang tetap bisa membantu menahan kenaikan ongkos transportasi dan distribusi barang.

Dalam situasi seperti ini, tekanan harga minyak memang bisa membawa dua arah dampak bagi negara. Di satu sisi, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat, tetapi di sisi lain penerimaan dari sektor migas juga dapat terdorong.

Batas US$ 100 per Barel Jadi Patokan Penting

Pernyataan Bahlil soal ambang US$ 100 per barel menunjukkan ruang aman fiskal yang masih dijaga pemerintah. Selama harga belum melewati level itu, APBN dinilai masih memiliki kemampuan untuk menampung tekanan tanpa memicu gangguan besar.

Karena itu, pemerintah terus mencermati pasar energi global secara ketat. Pergerakan harga minyak tidak hanya berkaitan dengan belanja negara, tetapi juga memengaruhi stabilitas harga energi di dalam negeri dan rasa percaya publik terhadap kebijakan fiskal.

Dengan stok BBM dan LPG yang masih aman serta harga subsidi yang tetap dipertahankan, pemerintah berupaya menjaga agar gejolak pasar minyak dunia tidak langsung menekan masyarakat. Fokus kebijakan tetap tertuju pada keseimbangan antara ketahanan fiskal, kelancaran pasokan energi, dan perlindungan daya beli.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer