Idul Adha Tak Hanya Soal Kurban, 10 Tradisi Daerah Ini Memperlihatkan Wajah Indonesia Berbeda

Idul Adha di Indonesia punya warna yang jauh lebih luas daripada penyembelihan hewan kurban semata. Di sejumlah daerah, hari besar ini justru hidup lewat arak-arakan, ziarah, pembagian makanan, hingga penghormatan pada warisan budaya yang sudah lama dijaga.

Keragaman itu membuat perayaan terasa berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain. Ada daerah yang mengubah hasil bumi menjadi simbol syukur, ada yang memberi penghormatan khusus kepada hewan kurban, dan ada pula yang menjadikan Idul Adha sebagai momen untuk mempererat hubungan keluarga, tetangga, serta leluhur.

Tradisi syukur yang tampil lewat hasil bumi

Di Yogyakarta, Grebeg Gunungan menjadi salah satu tradisi yang paling dikenal saat Idul Adha. Gunungan berisi sayur, buah, dan hasil bumi diarak dari Keraton menuju Masjid Gede Kauman sebelum dibagikan kepada warga.

Di Semarang, Apitan menghadirkan suasana serupa melalui doa bersama dan arak-arakan hasil tani serta ternak. Setelah didoakan, hasil bumi itu diperebutkan warga sebagai bagian dari perayaan yang menekankan rasa syukur.

Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa Idul Adha tidak hanya dipahami sebagai ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk merayakan rezeki yang ada di sekitar masyarakat. Unsur kebersamaan menjadi kuat karena warga ikut terlibat langsung dalam prosesi dan pembagian hasilnya.

Kurban yang dihormati dengan cara khusus

Pasuruan memiliki Manten Sapi, tradisi yang memberi penghormatan kepada sapi kurban sebelum disembelih. Sapi dihias seperti pengantin lalu diarak menuju masjid untuk diserahkan kepada panitia kurban.

Prosesi itu membuat penyembelihan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian sosial yang dirasakan bersama warga. Setelah penyembelihan, daging sapi kurban diolah dan disantap bersama sehingga suasana Idul Adha terasa hangat dan dekat.

Cara ini memperlihatkan bahwa penghormatan kepada hewan kurban bisa hadir lewat simbol dan prosesi yang penuh makna. Di saat yang sama, kebersamaan warga tetap menjadi inti dari perayaan.

Makanan sebagai bahasa kebersamaan

Aceh mengenal Meugang sebagai tradisi yang kerap hadir pada hari besar Islam, termasuk Idul Adha. Warga memasak daging sapi atau kerbau lalu menikmatinya bersama keluarga dan masyarakat sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran.

Di Bali, semangat berbagi itu muncul lewat Ngejot. Warga memberikan makanan, minuman, dan buah kepada tetangga saat hari besar keagamaan, termasuk Idul Adha, sebagai simbol toleransi dan keharmonisan antarumat beragama.

Kedua tradisi ini menempatkan makanan bukan sekadar santapan, tetapi juga tanda kepedulian sosial. Dari meja makan hingga pintu tetangga, Idul Adha menjadi momen untuk menjaga hubungan antarkelompok tetap hangat.

Jejak sejarah dan penghormatan pada warisan lama

Di Cirebon dan Surakarta, Gamelan Sekaten dibunyikan sebagai penanda datangnya hari besar Islam, termasuk Idul Adha. Tradisi ini juga terkait dengan sejarah penyebaran Islam melalui seni dan budaya.

Sementara di Gowa, Accera Kalompoang dilakukan dengan mencuci benda bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa. Tradisi sakral ini berlangsung menjelang dan saat Idul Adha sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya serta pengikat hubungan keluarga kerajaan dan pemerintah.

Keduanya memperlihatkan bahwa perayaan Idul Adha dapat bersentuhan langsung dengan ingatan sejarah. Seni, benda pusaka, dan prosesi adat ikut menjaga makna hari besar ini tetap hidup di tengah masyarakat.

Pulang kampung, ziarah, dan doa untuk leluhur

Bagi masyarakat Madura, Idul Adha identik dengan toron atau pulang kampung. Setelah salat Id, warga menjalankan nyalase, yakni ziarah ke makam leluhur untuk mendoakan keluarga yang telah wafat.

Di Banyuwangi, masyarakat Osing menjalankan Mepe Kasur dengan menjemur kasur di depan rumah menjelang Idul Adha. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol menolak bala dan menjaga keharmonisan rumah tangga.

Di Tulehu, Maluku Tengah, masyarakat melakukan Kaul Negeri dan Abda’u dengan mengarak kambing kurban keliling desa. Prosesi yang diiringi takbir dan shalawat itu menjadi doa keselamatan dan perlindungan bagi warga.

Rangkaian tradisi tersebut memperlihatkan betapa Idul Adha di Indonesia hidup sebagai peristiwa sosial, budaya, dan keagamaan sekaligus. Di berbagai daerah, perayaannya merawat syukur, solidaritas, dan hubungan antargenerasi tanpa meninggalkan makna utamanya sebagai hari besar Islam.

Source: www.medcom.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer