IHSG Mulai Pulih dari Tekanan Terdalam, Rupiah dan Dana Asing Beri Sinyal Balik Arah

Author: Redaksi Android62

Tekanan paling berat di pasar saham Indonesia dinilai sudah terlewati, setidaknya untuk saat ini. Sejumlah indikator utama kini bergerak ke arah yang lebih sehat, mulai dari penguatan rupiah hingga kembalinya aliran dana asing ke bursa domestik.

Samuel Sekuritas Indonesia menilai kondisi itu menjadi tanda bahwa fase penurunan terdalam IHSG tidak lagi seburuk sebelumnya. Dalam riset yang dikutip pada Minggu, 14 Juni 2026, Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi dan tim melihat peluang pasar bergerak lebih stabil.

Rupiah menguat saat IHSG mencari titik keseimbangan

Penguatan rupiah menjadi sinyal penting karena secara historis sering muncul saat IHSG mendekati atau melewati titik terendah. Dalam pandangan Samuel Sekuritas, hal ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar mulai mereda setelah periode pelemahan yang dalam.

Penguatan mata uang domestik itu juga didorong respons kebijakan Bank Indonesia yang lebih tegas. Dalam satu bulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 75 basis poin, termasuk kenaikan 25 bps pada 9 Juni 2026 sehingga BI-Rate berada di level 5,5%.

Dana asing kembali masuk ke pasar saham

Sentimen pasar ikut membaik setelah muncul net foreign inflow pada 12 Juni 2026 sebesar Rp 287 miliar atau sekitar US$ 16 juta. Itu menjadi aliran dana asing bersih pertama sejak 20 Mei 2026.

Masuknya dana asing tersebut dinilai berpotensi memberi dukungan tambahan bagi rupiah sekaligus memperbaiki suasana perdagangan saham. Di tengah pasar yang sebelumnya tertekan, arus masuk ini menjadi salah satu tanda yang paling diperhatikan pelaku pasar.

Valuasi saham masih dianggap murah

Dari sisi valuasi, IHSG juga masih dinilai menarik. Pada 9 Juni, indeks sempat naik 7,6% ketika pasar diperdagangkan pada rasio price to earnings satu tahun ke depan sebesar 8,8 kali.

Posisi itu berada sekitar 11% di bawah batas minus dua standar deviasi historis dan 36% lebih rendah dari rata-rata lima tahun terakhir. Kondisi tersebut membuka ruang akumulasi bagi investor yang melihat harga saham sudah terlalu murah dibandingkan sejarahnya.

Penurunan sebelumnya sempat sangat dalam

Sebelum tanda perbaikan ini muncul, IHSG sempat terkoreksi hingga 41% dari puncak ke titik terendah dalam sekitar 4,6 bulan. Koreksi itu bahkan melampaui beberapa periode pelemahan besar yang pernah dialami pasar saham Indonesia.

Sebagai pembanding, IHSG turun 23,9% pada 2013, melemah 25,4% pada 2015, dan terkoreksi 37,7% saat pandemi Covid-19. Penurunan terdalam masih terjadi pada krisis keuangan global 2008, ketika IHSG melemah 60,7%.

Samuel Sekuritas menilai pasar seolah sudah memberi harga pada skenario yang setara dengan krisis besar. Namun, mereka menilai kondisi fundamental saat ini tidak separah asumsi yang tercermin di pasar.

Faktor kebijakan lain ikut menjaga stabilitas

Di luar kebijakan moneter, sejumlah langkah fiskal dan tata kelola juga dipandang bisa membantu stabilitas rupiah. Pengeluaran pemerintah yang lebih rendah untuk program makan bergizi gratis serta rasionalisasi anggaran koperasi desa dinilai ikut memberi ruang bagi penguatan mata uang domestik.

Kebijakan tata kelola ekspor komoditas seperti batu bara, crude palm oil atau CPO, dan ferro alloy juga berpotensi menekan praktik under-invoicing. Jika praktik itu berkurang, arus masuk devisa dolar AS ke Indonesia bisa membaik dan memberi dukungan tambahan bagi pasar.

Dengan kombinasi rupiah yang menguat, dana asing yang kembali masuk, dan valuasi IHSG yang masih murah, pasar punya peluang untuk bergerak lebih stabil. Meski begitu, arah pergerakan selanjutnya tetap akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kepercayaan investor dalam beberapa waktu ke depan.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru