Rupiah Menguat ke Rp 17.776, Proyeksi Bank Dunia Ubah Arah Sentimen Pasar

Author: Redaksi Android62

Rupiah menguat ke level Rp 17.776 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin pagi. Mata uang domestik itu naik 84 poin atau 0,47 persen dari posisi sebelumnya di Rp 17.860 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar memberi respons cepat terhadap perubahan ekspektasi atas prospek ekonomi Indonesia. Di tengah tekanan eksternal yang belum reda, sentimen positif dari dalam negeri ikut membantu arah rupiah bergerak lebih kuat.

Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia

Salah satu pendorong utama datang dari revisi proyeksi Bank Dunia yang menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026. Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai revisi itu menjadi sinyal bahwa prospek ekonomi Indonesia dinilai lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.

Dalam riset hariannya, Ibrahim menyebut angka terbaru tersebut lebih tinggi dibanding estimasi Bank Dunia pada April 2026 yang masih berada di level 4,7 persen. Ia menilai pasar membaca revisi ini sebagai penguatan fondasi pertumbuhan domestik.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama

Bank Dunia melihat pertumbuhan itu ditopang oleh kinerja kuartal pertama yang lebih kuat dari dugaan awal. Produk domestik bruto Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,6 persen secara tahunan, sebuah capaian yang memberi dorongan pada optimisme pasar.

Kuatnya awal tahun terutama berasal dari konsumsi rumah tangga. Dorongan itu muncul dari momen Ramadan dan Idul Fitri, pembayaran THR pegawai negeri sipil yang dipercepat, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sepanjang 2026, konsumsi swasta diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,0 persen dengan dukungan stimulus fiskal pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh lebih tinggi dan mencapai 8,7 persen.

Investasi masih solid, risiko eksternal belum hilang

Dari sisi pembentukan modal tetap bruto, Bank Dunia mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 6,0 persen pada kuartal I-2026. Angka tersebut memperlihatkan aktivitas ekonomi masih terjaga di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil.

Namun, Bank Dunia juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap konsumsi sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek menyimpan risiko. Ruang fiskal yang semakin terbatas menjadi salah satu perhatian dalam menjaga daya tahan ekonomi.

Risiko lain datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengerek harga minyak global. Pasar keuangan domestik juga masih rawan terguncang oleh sentimen dari pengumuman evaluasi indeks MSCI.

Rupiah diperkirakan masih fluktuatif

Dengan kombinasi sentimen tersebut, rupiah dipandang masih akan bergerak naik turun dalam waktu dekat. Ibrahim memperkirakan mata uang domestik tetap fluktuatif, dengan potensi ditutup melemah pada rentang Rp 17.860-Rp 17.910.

Penguatan ke Rp 17.776 mencerminkan respons positif pasar terhadap revisi proyeksi ekonomi, tetapi tekanan eksternal masih menjadi faktor yang membayangi. Arah rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada kekuatan sentimen domestik, respons investor, dan perkembangan risiko global yang terus dipantau pasar.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru