Mandiri Capital Menekan BOPO Saat Industri Modal Ventura Masih Tertekan

Author: Redaksi Android62

Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional atau BOPO industri modal ventura masih sangat tinggi, mencapai 97,63% pada April 2026. Meski turun tipis dari 98,03% pada Maret 2026, angka itu menunjukkan tekanan efisiensi di industri ini belum mereda.

Di tengah kondisi tersebut, PT Mandiri Capital Indonesia menyiapkan strategi bertahap untuk menahan tekanan kinerja. Fokus utamanya adalah menjaga efisiensi, memperbaiki kualitas portofolio, dan membangun sumber pendapatan yang lebih stabil.

Biaya ditekan, proses dipercepat

Direktur Utama MCI Ronald Simorangkir menyebut disiplin dalam memprioritaskan biaya operasional sebagai langkah awal. Upaya ini diperkuat lewat sinergi dengan ekosistem Grup Bank Mandiri agar penggunaan sumber daya menjadi lebih efektif.

MCI juga mendorong digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam proses bisnis dan operasional. Pendekatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban biaya secara sepadan.

Portofolio baru diarahkan ke emiten yang lebih kuat

Selain efisiensi, MCI menempatkan kualitas portofolio baru sebagai perhatian penting. Perusahaan memilih mengarah ke emiten atau perusahaan dengan kinerja keuangan yang kuat dan potensi bisnis yang baik agar peluang imbal hasil tetap terjaga.

Langkah lain yang disiapkan adalah diversifikasi sumber pendapatan. Ronald menjelaskan, MCI ingin menambah instrumen yang mampu menghasilkan pendapatan lebih reguler sehingga profil pendapatan tidak terlalu bergantung pada satu sumber.

Risiko dan tata kelola tetap diperketat

Penguatan tata kelola dan manajemen risiko juga menjadi bagian dari strategi MCI. Tujuannya adalah menekan penurunan nilai yang bisa menggerus pendapatan operasional dan menekan rasio BOPO lebih dalam.

Ronald menilai BOPO yang masih berada di atas 90% tidak cukup dibaca sebagai persoalan efisiensi semata. Ia menyebut ada faktor struktural-akuntansi yang melekat pada model venture capital company, karena pendapatan operasional biasanya muncul dari realisasi investasi, dividen, dan capital gain saat divestasi.

Sementara itu, beban operasional tetap berjalan. Biaya sumber daya manusia, due diligence, monitoring portofolio, tata kelola, dan kepatuhan tetap harus dikeluarkan meski belum ada realisasi investasi pada periode tertentu.

Tekanan industri dan siklus exit masih membayangi

Ronald juga menyoroti kondisi makro yang ikut memberi tekanan. Iklim investasi ke perusahaan rintisan masih lesu, jendela exit atau IPO masih terbatas, dan kenaikan suku bunga ikut menekan valuasi serta menggeser waktu realisasi investasi.

Tekanan itu tercermin pula dari nilai pembiayaan industri yang terkontraksi 0,87% secara tahunan per April 2026. Kondisi tersebut ikut menahan sisi pendapatan operasional di industri modal ventura.

Meski begitu, MCI melihat masih ada ruang perbaikan bertahap pada semester I/2026. Penurunan BOPO industri dari 98,03% pada Maret 2026 menjadi 97,63% pada April 2026 dinilai sebagai sinyal pemulihan yang berlangsung perlahan.

Dalam jangka menengah, MCI menargetkan BOPO bisa turun berkelanjutan ke bawah 90%. Saat siklus industri kembali normal, rasio itu diharapkan bergerak menuju kisaran 80-an.

Ronald menegaskan BOPO bulanan bukan satu-satunya ukuran yang ideal untuk membaca kinerja venture capital company. Ukuran yang lebih relevan adalah hasil sepanjang siklus investasi, termasuk IRR, MOIC, pertumbuhan NAV, realisasi divestasi, penerimaan dividen, dan penciptaan nilai bagi Grup Bank Mandiri.

Source: finansial.bisnis.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru