Ratusan imam masjid, tokoh agama, akademisi, dan pemangku kebijakan berkumpul di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, untuk merumuskan peran yang lebih luas bagi rumah ibadah dalam menjaga perdamaian dunia. Pertemuan itu menjadi bagian dari konsolidasi menuju International Grand Imams Conference on Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace yang akan digelar di Jakarta.
Agenda besar tersebut menempatkan imam masjid bukan sekadar pemimpin salat, melainkan juga penggerak harmoni sosial dan juru damai lintas batas. IPIM Sulawesi Selatan mendorong masjid menjadi pusat peradaban yang memperkuat moderasi beragama sekaligus membuka ruang diplomasi perdamaian.
Masjid tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat ibadah
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad, menegaskan masjid perlu membimbing jamaah agar tumbuh dalam sikap toleran, inklusif, dan moderat. Ia menyebut fungsi masjid tidak berhenti pada ibadah mahdhah, tetapi juga mencakup pembentukan sikap sosial yang sehat di tengah masyarakat.
“Masjid bukan hanya memfasilitasi ibadah mahdhah, tetapi juga ruang menumbuhkan sikap toleran dan inklusif di tengah masyarakat,” kata Abu Rokhmad.
Pandangan serupa menguat dalam forum tersebut, yang melihat imam masjid sebagai pemimpin moral, pendidik masyarakat, dan penjaga harmoni sosial. Dalam konteks itu, masjid diposisikan sebagai ruang yang tetap relevan terhadap kebutuhan umat yang terus berkembang.
Pesan ekologis dan ekonomi ikut masuk ke pembahasan
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag RI, H. Ahmad Zayadi, mengajak masjid mengambil peran dalam gerakan ekoteologi. Ia menilai nilai agama bisa menjadi pintu untuk menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan hidup.
“Dari masjid kita bisa memulai ibadah ekologis,” ujarnya. Pesan tersebut memperluas perbincangan forum dari isu perdamaian ke tanggung jawab lingkungan yang lebih konkret.
Baznas juga menyoroti potensi masjid dalam pemberdayaan ekonomi umat. Lembaga itu melihat masjid dapat berkembang menjadi pusat layanan keuangan mikro dan wadah kolaborasi pemberdayaan masyarakat.
| Fokus Pembahasan | Arah Peran Masjid |
|---|---|
| Perdamaian dan moderasi | Menjadi penggerak harmoni sosial dan diplomasi lintas negara |
| Lingkungan | Mendorong gerakan ekoteologi dan kepedulian ekologis |
| Ekonomi umat | Menjadi pusat layanan keuangan mikro dan pemberdayaan masyarakat |
Menuju konferensi internasional di Jakarta
Konferensi bertema Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace akan berlangsung dari Februari hingga Oktober 2026. Puncak kegiatan dijadwalkan di Masjid Istiqlal dan Hotel Borobudur, Jakarta.
Sebelum puncak acara, panitia menyiapkan program Bridging to Conference berupa workshop, seminar, istighosah, dan tabligh akbar di enam wilayah. Enam daerah itu meliputi Kalimantan Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Target akhirnya adalah melahirkan dokumen Istiqlal Understanding of International Imams sebagai pedoman bersama. Forum ini juga diarahkan untuk membentuk wadah persatuan imam dari berbagai negara.
Kolaborasi lintas lembaga menguat
Kegiatan di Makassar melibatkan Kementerian Agama RI, Masjid Istiqlal, IPIM, Kementerian Luar Negeri, serta sejumlah kedutaan besar negara sahabat. Pesertanya terdiri dari imam masjid, pimpinan organisasi keagamaan nasional dan internasional, akademisi, peneliti, hingga perwakilan lembaga pemerintah dan non-pemerintah.
Sejumlah narasumber hadir dalam forum tersebut, antara lain Abu Rokhmad, Wakil Rektor IV UMI H. Muhammad Ishaq Shamad, H. Ahmad Zayadi, Wakil Kepala Bidang Peribadatan BPIM Jakarta K.H. Mas’ud Halimin, dan Direktur Perlindungan BNPT RI Irfan Idris. Kehadiran berbagai lembaga itu menunjukkan diplomasi perdamaian melalui masjid mulai diposisikan sebagai agenda bersama yang menautkan nilai keagamaan, harmoni sosial, dan kepentingan kemanusiaan yang lebih luas.
Source: mediaindonesia.com






