Muharram Dibuka dengan Puasa, 12 Amalan Sunnah Ini Dianjurkan Ulama

Di antara beragam amalan sunah di bulan Muharram, puasa menempati posisi paling utama. Dasarnya merujuk pada hadits riwayat Abu Hurairah ketika Rasulullah SAW menjawab pertanyaan tentang puasa paling utama setelah Ramadan dengan menyebut, “Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram.”

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan hadits itu sebagai dalil kuat untuk memperbanyak puasa di Muharram. Ia juga menjelaskan bahwa riwayat lain yang menunjukkan Nabi SAW lebih sering berpuasa di Sya’ban tidak meniadakan keutamaan Muharram, karena perbedaan itu bisa saja terkait waktu pengetahuan atau adanya udzur tertentu.

Muharram dan kedudukannya sebagai bulan mulia

Muharram menandai awal tahun Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia yang disebut asyhurul hurum. Dalam sejumlah referensi, bulan ini juga disebut sebagai bulan Allah, sehingga dipandang sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat ibadah dan memperbanyak amal saleh.

Kedudukan itu membuat awal tahun baru Islam tidak sekadar menjadi penanda pergantian kalender. Bagi banyak ulama, Muharram adalah momentum untuk membuka lembaran baru dengan ibadah yang lebih disiplin dan kepedulian sosial yang lebih kuat.

Rangkuman 12 amalan sunah yang disebut ulama

Sejumlah ulama merangkum amalan yang dianjurkan di bulan Muharram dalam bentuk nadham. Salah satu yang disebut dalam tulisan adalah syair karya Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur, yang memuat 12 amalan sunah.

Amalan itu meliputi shalat sunah, berpuasa, menyambung silaturahim, bersedekah, mandi, memakai celak mata, berziarah kepada ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, menjenguk orang sakit, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, mengusap kepala anak yatim, dan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali.

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa ibadah di Muharram tidak hanya berorientasi pada ritual personal. Ada pula sisi sosial yang menekankan hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan sesama Muslim.

Momentum awal tahun Hijriah untuk menata kebiasaan ibadah

Tahun Baru Islam kerap dimaknai sebagai kesempatan menata kembali kebiasaan ibadah. Karena itu, memperbanyak puasa dan amal saleh di Muharram dipandang selaras dengan semangat hijrah yang mengutamakan perbaikan diri.

Dalam praktiknya, amalan sederhana seperti menjaga silaturahim, menjenguk orang sakit, dan membantu kebutuhan keluarga dapat menjadi bagian dari pembuka tahun yang penuh makna. Muharram pun menjadi bulan yang menggabungkan refleksi, ketaatan, dan penguatan relasi sosial dalam satu waktu yang sama.

Penanda waktu yang ikut mengingatkan publik

Dalam keterangan yang dicantumkan, Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 disebut jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, dan ditetapkan sebagai libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri. Penanda ini ikut membuat Muharram lebih dekat dengan perhatian publik.

Dengan demikian, awal kalender Hijriah tidak hanya diingat sebagai pergantian hari dan bulan. Momen itu juga menjadi pengingat agar umat Islam memanfaatkan Muharram untuk memperbanyak puasa dan menjalankan amalan sunah yang dianjurkan para ulama.

Source: www.medcom.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer