Indonesia Dorong Vaksin Dengue mRNA Pertama, Prototipe Ini Baru Mulai Jalan

Indonesia mulai menapaki jalur baru dalam riset penyakit menular lewat peluncuran prototipe vaksin dengue tetravalen berbasis mRNA. Produk awal ini masih berada di tahap penelitian, tetapi posisinya penting karena membuka jalan menuju pengembangan vaksin yang lebih cepat dan lebih adaptif.

Prototipe tersebut menggunakan gen preM-E dari virus dengue strain Indonesia. Pendekatan ini disiapkan untuk mendukung target Zero Dengue Death 2030 sekaligus memperkuat langkah menuju kemandirian vaksin nasional.

Riset lintas lembaga menjadi fondasi utama

Prototipe vaksin ini lahir dari kolaborasi Universitas Indonesia, Tsinghua University, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. Dukungan lain datang dari LPDP, Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Sains dan Teknologi Republik Rakyat Tiongkok, BRIN, serta pendampingan regulatori dari BPOM.

Dalam peluncurannya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menilai pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA sebagai bagian dari strategi besar transformasi kesehatan nasional. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas pihak dapat menghasilkan inovasi yang memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan mempercepat kemandirian vaksin di Indonesia, seperti dikutip dari laman BPOM oleh lifestyle.bisnis.com.

Masih tahap awal dan belum untuk masyarakat

Ketua Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Beti Ernawati Dewi menjelaskan bahwa prototipe ini masih berada di tahap riset dan belum dapat digunakan oleh masyarakat. Tahap berikutnya akan difokuskan pada penyempurnaan formulasi, pengujian praklinik, dan pengembangan menuju uji klinik sesuai standar ilmiah serta ketentuan regulatori.

Artinya, peluncuran ini belum menandakan vaksin siap dipakai. Namun, kehadiran prototipe memberi sinyal bahwa Indonesia sedang membangun jalur pengembangan vaksin dengue dari awal hingga tahap yang lebih matang.

BPOM ingin hadir sejak awal proses

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa pengembangan vaksin berbasis mRNA menunjukkan kapasitas Indonesia dalam menghasilkan inovasi kesehatan untuk menjawab penyakit menular. Ia juga menilai riset seperti ini penting untuk memperkuat kemandirian nasional di bidang farmasi dan bioteknologi.

Taruna menyoroti bahwa pengawasan regulator seharusnya hadir sejak tahap paling awal, bukan hanya ketika produk sudah mendekati izin edar. Menurutnya, BPOM memahami standar, metode, dan karakteristik produk yang harus dipenuhi sehingga keterlibatan awal dapat mencegah riset berhenti di tengah jalan.

Ia bahkan menegaskan bahwa BPOM bukan sekadar pihak yang memberi stempel di akhir proses. Dalam pengembangan vaksin ini, BPOM disebut akan mendampingi secara maksimal karena Indonesia tengah berupaya menciptakan sejarah lewat vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah.

Tahap pengembangan prototipe

TahapFokusStatus
Penelitian awalPengembangan prototipe dengan gen preM-E dari virus dengue strain IndonesiaSudah diluncurkan
Penyempurnaan formulasiPerbaikan formulasi sebelum pengujian lanjutanDirencanakan
Pengujian praklinikMenilai aspek awal sebelum uji klinikDirencanakan
Uji klinikPengembangan menuju penggunaan yang memenuhi standar ilmiah dan regulatoriBelum dimulai

Pengawasan dan transformasi regulasi

Sebagai regulator, BPOM melakukan pengawasan mulai dari penelitian, pengembangan, uji klinik, produksi, hingga pengawasan setelah produk beredar, sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Pendekatan itu juga diperkuat melalui mekanisme pendampingan pengembangan obat baru agar regulator berperan sebagai mitra strategis bagi peneliti dan industri.

BPOM juga menonjolkan pengakuan internasional yang telah diperoleh sebagai WHO-Listed Authority dan anggota Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme atau PIC/S. Status tersebut menjadi penanda bahwa sistem regulasi Indonesia telah berstandar internasional dan dipercaya dunia.

Di sisi lain, BPOM menyebut transformasi pelayanan regulatori terus berjalan. Persentase penyelesaian persetujuan izin edar obat sesuai target waktu naik dari 70,6% pada 2024 menjadi 76% pada 2025, lalu mencapai 87,5% pada triwulan pertama 2026.

Peluncuran prototipe ini dipandang sebagai awal dari perjalanan panjang, bukan garis akhir. Dengan kolaborasi perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan regulator, Indonesia kini memiliki fondasi yang lebih jelas untuk mengejar vaksin inovatif yang aman, berkhasiat, bermutu, dan lebih mandiri.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terkait