Indonesia Masuk Lima Besar Pengguna ChatGPT, Pemerintah Kejar Pemakaian AI yang Lebih Dalam

Indonesia telah masuk lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk coding, analitik data, dan pendidikan. Namun, tingginya penggunaan itu belum menunjukkan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau AI yang mendalam di masyarakat maupun dunia usaha.

Pemerintah kini menyiapkan Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI Nasional sebagai fondasi pengembangan teknologi tersebut. Kedua dokumen itu masih diproses sebelum ditetapkan melalui Peraturan Presiden.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai persoalan utama bukan lagi ketersediaan akses terhadap AI. Tantangan yang lebih besar adalah memperkecil jarak kemampuan antara pengguna paling mahir dan pengguna rata-rata.

Hampir separuh angkatan kerja disebut telah memanfaatkan AI setiap minggu. Meski demikian, banyak pengguna dan pelaku usaha masih memakai teknologi ini untuk kebutuhan operasional dasar.

Adopsi tinggi belum mengubah cara bisnis

Di sektor usaha, pemanfaatan AI untuk mengubah model bisnis masih dilakukan oleh sebagian kecil pelaku. Kondisi itu menunjukkan adopsi teknologi belum selalu berujung pada perubahan proses kerja yang lebih mendasar.

BidangKondisi Saat IniTantangan Utama
Penggunaan AILima besar dunia dalam penggunaan ChatGPTKedalaman pemanfaatan belum merata
Angkatan kerjaHampir separuh memakai AI setiap mingguKemampuan pengguna masih timpang
Dunia usahaBanyak memakai AI untuk operasional dasarTransformasi model bisnis masih terbatas

Nezar mengatakan kemampuan menggunakan AI perlu menjadi perhatian utama, bukan sekadar angka adopsi. “Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip teknologi.bisnis.com.

Kesenjangan tersebut juga terlihat pada jutaan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Banyak UMKM belum sepenuhnya masuk ke ekosistem digital sehingga belum siap memanfaatkan AI secara optimal.

Menurut Nezar, pengembangan AI tidak dapat berdiri di atas fondasi digitalisasi yang belum terbentuk. “Kita tidak bisa membangun satu AI house atau rumah AI atas fondasi yang bahkan belum pernah terdigitalisasi,” katanya.

Empat sektor menjadi sasaran awal

Pemerintah memusatkan langkah strategis pada pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan sektor publik. Keempat sektor itu dipandang dapat merasakan manfaat AI lebih cepat apabila penerapannya dilakukan secara tepat dan aman.

SektorArah Pemanfaatan AIManfaat yang Didorong
PendidikanPenerapan terstruktur dan sesuai usiaPenggunaan yang aman di lingkungan belajar
KesehatanMembantu penapisan tuberkulosisMemperkuat layanan di daerah kekurangan spesialis
Jasa keuanganDeteksi penipuan dan rekrutmenMemperluas manfaat hingga lembaga mikro
Sektor publikMendukung produktivitas aparatur sipil negaraMeningkatkan kualitas pelayanan publik

Di bidang pendidikan, pemanfaatan AI didorong agar tidak hanya menjadi eksperimen perorangan. Penerapannya perlu lebih terstruktur, aman, dan menyesuaikan tahapan usia peserta didik.

Pada layanan kesehatan, keberhasilan AI dalam membantu penapisan tuberkulosis dinilai menunjukkan potensi yang nyata. Teknologi tersebut dapat membantu kerja dokter, terutama di wilayah yang masih kekurangan dokter spesialis.

Jasa keuangan menjadi sektor lain yang disiapkan untuk memperluas penggunaan AI di luar korporasi besar. Teknologi ini dapat digunakan untuk mendeteksi penipuan, mengelola sumber daya manusia, serta membantu proses rekrutmen.

Sementara itu, sektor publik diarahkan memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas aparatur sipil negara dan mutu layanan. Pemerintah menilai aparatur juga perlu memperoleh efisiensi yang selama ini lebih dulu dirasakan perusahaan besar.

Regulasi berbasis risiko disiapkan

Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial, Peta Jalan AI Nasional, dan Etika AI Nasional disiapkan untuk memastikan pengembangan teknologi berjalan aman dan terarah. Pemerintah ingin AI memberi manfaat yang lebih luas, bukan hanya memperbesar jumlah pengguna.

Nezar menegaskan AI harus ditempatkan sebagai alat yang melengkapi kemampuan manusia. Penguatan literasi AI juga perlu berjalan bersama kemampuan bernalar agar penggunaannya tetap bijaksana.

“AI ini harus didudukkan sebagai tools, complementary, sebagai partner dalam bekerja,” ujar Nezar. Melalui regulasi berbasis risiko, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar pengguna teknologi AI.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terkait