Indonesia masuk dalam kelompok awal pembentuk World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO, organisasi kerja sama kecerdasan buatan tingkat dunia. Posisi tersebut memberi Indonesia ruang untuk ikut membentuk arah tata kelola AI global sejak tahap pendirian.
Pemerintah menekankan bahwa pengembangan AI perlu berlangsung secara inklusif, aman, bertanggung jawab, dan tidak dimonopoli oleh sedikit negara atau pihak. Prinsip itu menjadi perhatian Indonesia dalam keterlibatannya di WAICO.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin delegasi Indonesia pada World Artificial Intelligence Conference 2026 di Shanghai, China. Dalam forum itu, Indonesia ikut menandatangani piagam kerja sama pendirian WAICO bersama 28 negara lain.
Keikutsertaan tersebut merupakan pelaksanaan mandat Presiden Prabowo Subianto sekaligus langkah baru bagi ekosistem digital nasional. Indonesia tercatat sebagai satu dari 29 negara pertama yang menginisiasi organisasi kerja sama AI tersebut.
Suara Indo-Pasifik dalam Tata Kelola AI
Keterlibatan Indonesia dipandang penting untuk membawa kepentingan negara-negara Indo-Pasifik ke dalam pembahasan kecerdasan buatan di tingkat global. Fokus yang dibawa mencakup pemanfaatan teknologi yang beretika serta akses manfaat AI yang lebih merata.
Airlangga mengatakan kehadiran Indonesia menunjukkan komitmen terhadap penyusunan aturan pengembangan teknologi tersebut. “Kehadiran Indonesia merupakan bagian dari komitmen nyata untuk membangun tata kelola dan kaidah-kaidah pengembangan dari kecerdasan buatan itu sendiri,” katanya.
Komposisi negara penggagas WAICO memperlihatkan keterlibatan berbagai kawasan, terutama negara berkembang. Negara-negara itu berasal dari Asia Tenggara, BRICS, Afrika, Amerika Latin, Asia Tengah, Timur Tengah, serta Eropa Timur.
| Kawasan | Negara yang Disebut |
|---|---|
| Asia Tenggara | Kamboja, Myanmar, Laos, Malaysia, Indonesia |
| BRICS | Tiongkok, Brasil, Rusia, Ethiopia, Afrika Selatan |
| Afrika | Kenya, Kongo, Kamerun, Lesotho, Mozambik, Senegal, Zambia |
| Amerika Latin | Kuba, Nikaragua, Venezuela |
| Asia Tengah dan Timur Tengah | Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Tajikistan, Pakistan, Oman |
| Eropa Timur | Belarus, Serbia |
Salam Xi Jinping untuk Prabowo
Presiden China Xi Jinping juga menyampaikan harapan atas keterlibatan Indonesia dalam organisasi baru itu. Pesan tersebut disampaikan kepada Airlangga dalam suasana silaturahmi pada jamuan makan malam bersama para pemimpin delegasi.
Dalam kesempatan itu, Xi Jinping menitipkan salam hangat kepada Presiden Prabowo Subianto. Delegasi Indonesia turut menyampaikan salam dari Presiden Prabowo kepada Xi Jinping.
Airlangga menyampaikan bahwa Xi berharap Indonesia dapat memberikan warna tersendiri di WAICO, khususnya bagi negara-negara di kawasan Indo-Pasifik. Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam konferensi pers daring dari Shanghai pada Jumat malam, 17 Juli 2026.
“Tentunya Presiden Xi Jinping sangat berharap bahwa dengan keikutsertaan Indonesia di dalam WAICO ini akan memberikan warna tersendangan, terutama bagi negara-negara di kawasan Indo-Pasifik,” tutur Airlangga. Harapan itu sejalan dengan agenda Indonesia untuk mendorong tata kelola AI yang tidak terpusat pada segelintir pihak.
Keanggotaan Pendiri Masih Dibuka
Proses pembentukan WAICO masih membuka pendaftaran awal bagi negara yang ingin memperoleh kategori sebagai pendiri. Pendaftaran tersebut dibuka hingga 31 Juli 2026.
Tahap awal itu akan menentukan kelompok negara yang ikut membangun fondasi kerja sama organisasi AI dunia tersebut. Bagi Indonesia, status pendiri menjadi peluang untuk mengawal aturan serta kaidah pengembangan AI sejak awal pembentukannya.
