Sebanyak 80 penarik becak di Kota Yogyakarta dan wilayah sekitarnya kini masuk ke ekosistem Becak Kayuh Listrik Pariwisata atau Bekalista. Program ini tidak berhenti pada penyerahan kendaraan, karena turut menyediakan fasilitas pengisian daya, perawatan, dan baterai cadangan.
Model pendukung tersebut menjadi pembeda penting dalam peralihan becak kayuh menuju tenaga listrik. Pengayuh diharapkan tetap dapat melayani mobilitas wisata tanpa kehilangan identitas becak sebagai ikon Yogyakarta.
Ekosistem ini menyiapkan 12 titik pengisian daya di koridor aktivitas ekonomi para penerima manfaat. Satu unit bengkel bergerak juga disediakan untuk menangani gangguan teknis saat becak beroperasi di lapangan.
| Komponen Pendukung | Jumlah | Peran |
|---|---|---|
| Bengkel bergerak | 1 unit | Menangani gangguan teknis di lapangan |
| Stasiun pengisian daya | 12 titik | Mendukung pengisian daya di koridor ekonomi |
| Baterai cadangan | 8 unit | Menjaga kelancaran operasional pengayuh |
Delapan baterai cadangan turut disiapkan bagi pengayuh yang mengalami kendala operasional. Ketersediaan baterai ini ditujukan agar layanan becak kepada pengguna tidak mudah terganggu.
Modernisasi tanpa Menghapus Identitas
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkenalkan Bekalista bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X. Program ini disebut sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membantu UMKM, merawat budaya, dan mempercepat penerapan kawasan rendah emisi di Malioboro.
Purbaya menegaskan modernisasi tersebut tidak dimaksudkan menggantikan karakter becak kayuh yang telah melekat di Yogyakarta. “Ini bukan cerita tentang mengganti becak lama dengan yang baru, tetapi menjaga icon lama dengan memberi energi baru,” katanya dalam pernyataan yang dikutip dari siaran pers.
Seluruh penerima manfaat Bekalista telah melalui proses kurasi dan verifikasi faktual. Mereka berasal dari wilayah administrasi Kota Yogyakarta serta daerah sekitar yang menjadi koridor kegiatan ekonomi para penarik becak.
Dengan pendekatan ini, becak listrik diposisikan sebagai sarana untuk memperkuat pekerjaan pengayuh, bukan sekadar kendaraan pengganti. Sistem pemeliharaan dan pengisian daya dibangun agar penggunaan kendaraan dapat lebih mandiri serta berkelanjutan.
Bengkel Sekolah untuk Perawatan Lokal
Pembangunan ekosistem Bekalista melibatkan 100 persen tenaga lokal dari Yogyakarta. Keterlibatan tersebut mencakup tenaga profesional di bidang teknik pabrikasi, perakitan, hingga kelistrikan kendaraan listrik.
SMK Negeri 3 Yogyakarta menjadi lokasi bengkel induk Bekalista. Fasilitas itu dirancang sebagai pusat pemeliharaan aset sekaligus bagian dari penguatan konsep teaching factory di lingkungan sekolah kejuruan.
Bengkel induk diharapkan mendukung peningkatan kemampuan mekanik lokal dalam merawat kendaraan. Kehadiran bengkel bergerak melengkapi layanan tersebut agar penanganan teknis dapat menjangkau pengayuh di jalur operasional mereka.
Target Wisata yang Lebih Rendah Emisi
Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Astera Primanto Bhakti menilai Bekalista memiliki dampak pada kesejahteraan, produktivitas ekonomi, kesehatan, dan martabat tenaga kerja. Program ini juga diarahkan untuk mempercepat pariwisata hijau di Yogyakarta.
Menurut Astera, kehadiran becak listrik dapat memperkaya pengalaman wisatawan dan mendorong pengeluaran untuk produk maupun jasa lokal. Keberlanjutan program ditopang tata kelola komunitas melalui Koperasi Mobilitas Nasional Indonesia, transaksi digital, serta pemanfaatan platform JogjaKita untuk pemasaran dan akses layanan.
