Ancaman influenza tidak berhenti pada gejala batuk dan demam yang sering dianggap ringan. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa virus ini pernah memicu pandemi besar yang menewaskan sekitar 50 juta hingga 100 juta orang di dunia.
Pandangan bahwa influenza hanya penyakit musiman yang akan membaik sendiri dinilai berbahaya. Virus ini, terutama influenza A dan B, tetap memiliki potensi menyebabkan infeksi berat hingga kematian.
Risiko paling besar ada pada kelompok rentan
Bahaya influenza tidak selalu muncul pada semua orang dengan tingkat yang sama. Bayi, balita, lansia, dan orang dewasa dengan penyakit penyerta menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kondisi berat.
Prof. Dr. dr. Soedjatmiko menyebut diabetes dan obesitas dapat memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi yang lebih serius. Saat kondisi memburuk, pasien bisa menjadi lemas dan kehilangan nafsu makan.
Dari keluhan ringan ke komplikasi berat
Influenza biasanya diawali demam dan batuk. Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menyebar lebih luas di tubuh dan gejalanya berkembang menjadi lebih berat.
Salah satu komplikasi yang paling diwaspadai adalah pneumonia ketika virus menyerang paru-paru. Dampaknya bisa berupa sesak napas, kekurangan oksigen, dan kebutuhan bantuan oksigen.
Komplikasi influenza juga tidak terbatas pada paru-paru. Virus ini berpotensi menyerang jantung dan otak sehingga pasien dapat memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, termasuk di ICU.
Vaksinasi tetap dipandang penting
Di tengah anggapan bahwa influenza tidak berbahaya, pencegahan justru menjadi hal yang penting. Vaksinasi influenza dianjurkan untuk anggota keluarga, terutama mereka yang memiliki risiko lebih tinggi.
Namun, vaksin influenza belum masuk program imunisasi nasional di Indonesia. Menurut Prof. Soedjatmiko, keputusan itu berkaitan dengan pertimbangan pemerintah mengenai beban penyakit, tingkat keparahan, serta analisis biaya dan manfaat kesehatan.
Pemerintah dan Komite Imunisasi Nasional menilai besarnya dampak penyakit, termasuk apakah menimbulkan kematian atau kecacatan. Karena itu, status vaksin influenza di Indonesia masih berupa rekomendasi, bukan kewajiban.
Komposisi vaksin ikut menyesuaikan perkembangan virus
Prof. Soedjatmiko juga menyoroti vaksin influenza trivalent atau TIV. Ia menyebut vaksin influenza trivalent produksi PT Kalventis Sinergi Farma memiliki profil imunogenisitas, efektivitas, dan keamanan yang sebanding dengan vaksin quadrivalent.
Selama lebih dari satu dekade, vaksin quadrivalent digunakan untuk melindungi dua galur influenza A, yaitu H1N1 dan H3N2, serta dua galur influenza B, yakni Victoria dan Yamagata. Namun, pola peredaran virus membuat komposisi vaksin ikut dievaluasi.
Sejak 2020, virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia. Karena itu, pada 2023 WHO menilai komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak lagi diperlukan.
Efektivitas vaksin influenza ditentukan oleh kesesuaian antigen dengan virus yang sedang beredar. Dengan dasar itu, transisi dari quadrivalent ke trivalent dipandang sebagai penyesuaian berdasarkan bukti ilmiah terbaru, bukan penurunan perlindungan.
IDAI tetap mendorong vaksin influenza sebagai perlindungan optimal untuk keluarga. Prof. Soedjatmiko menilai vaksin influenza trivalent dapat digunakan untuk melindungi anggota keluarga dari bayi hingga lansia, dengan harga yang lebih ekonomis dan pemberian setiap tahun.
