Inggris vs Argentina Kembali Panas, Bayang-Bayang 1966 Masih Belum Padam

Author: Redaksi Android62

Semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina kembali membawa beban sejarah yang panjang, bukan sekadar perebutan tiket ke final. Di balik pertandingan itu, ada memori lama yang terus hidup dan membuat tensi kedua kubu sulit dipisahkan dari urusan sepak bola.

Bagi Argentina, duel melawan Inggris selalu terasa lebih dalam daripada laga biasa. Bagi Inggris, pertandingan ini kerap dilihat sebagai rivalitas olahraga, meski jejak emosional dari masa lalu tetap ikut membayangi.

Warisan panas dari Piala Dunia 1966

Salah satu sumber ketegangan paling terkenal berasal dari pertemuan kedua negara di Piala Dunia 1966. Saat itu, manajer legendaris Inggris Sir Alf Ramsey menyebut para pemain Argentina sebagai “binatang” setelah laga perempat final yang berlangsung keras.

Ramsey juga melarang para pemain Inggris bertukar jersey dengan lawannya dari Argentina. Ucapan itu kemudian bertahan lama dalam ingatan publik Argentina dan menjadi bagian penting dari rivalitas yang diwariskan antargenerasi.

Makna yang tidak sama bagi Inggris dan Argentina

Dikutip dari The Independent, suasana panas sudah terasa menjelang semifinal di Atlanta Stadium. Pelatih Argentina Lionel Scaloni mencoba meredam situasi dengan menegaskan bahwa laga itu hanyalah pertandingan sepak bola biasa.

Namun, nuansa di kubu Argentina justru menunjukkan hal berbeda. Para pemain dikabarkan menyanyikan lagu-lagu bernuansa nasionalisme yang berkaitan dengan Kepulauan Malvinas.

Diego Simeone pernah menjelaskan bahwa ada sesuatu yang berbeda ketika Argentina menghadapi Inggris. “Anda bisa merasakannya, ada sesuatu yang berbeda tentang pertandingan ini yang tidak berkaitan dengan sepak bola,” ujarnya.

Pandangan serupa datang dari Javier Zanetti. Mantan kapten Inter Milan itu menilai gairah dan sejarah selalu hadir dalam setiap pertemuan melawan Inggris.

Sudut Pandang Cara Memandang Duel Inggris vs Argentina
Inggris Lebih sering dianggap sebagai rivalitas olahraga, seperti laga melawan Jerman.
Argentina Dipandang memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar sepak bola.

Bayang-bayang Malvinas dan Maradona

Selain insiden 1966, rivalitas ini juga dipengaruhi memori Perang Falklands atau Malvinas pada 1982. Warisan sejarah itu membuat setiap laga melawan Inggris terasa sangat personal bagi banyak orang Argentina.

Dalam autobiografinya, Diego Maradona menulis bahwa kemenangan atas Inggris pada Piala Dunia 1986 terasa seperti penghormatan bagi para prajurit Argentina yang gugur dalam perang tersebut. Ia juga menegaskan bagaimana memori perang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kemenangan Argentina atas Inggris di perempat final Piala Dunia 1986 tetap dikenang karena dua gol ikonik Maradona, yakni “Tangan Tuhan” dan “Gol Abad Ini”. Hasil itu menjadi simbol kebangkitan harga diri bangsa di mata publik Argentina.

Atmosfer menjelang semifinal 2026 juga diwarnai kabar wafatnya Antonio Rattin. Ia adalah kapten Argentina yang diusir wasit dalam laga kontroversial Piala Dunia 1966 dan menjadi sosok yang memicu kemarahan Sir Alf Ramsey kala itu.

Babak baru dengan wajah berbeda

Di atas lapangan, duel ini akan mempertemukan generasi baru yang dipimpin Lionel Messi dan Jude Bellingham. Keduanya menjadi bagian dari babak terbaru rivalitas klasik yang sudah hidup puluhan tahun.

Karena itu, laga Inggris kontra Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 diperkirakan tetap membawa beban sejarah yang besar. Pertandingannya bukan hanya soal langkah ke final, tetapi juga soal harga diri dan ingatan yang belum benar-benar padam.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru