Thomas Tuchel meminta Inggris tidak menganggap enteng Republik Demokratik Kongo pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Ia menilai kejutan yang menimpa Jerman dan Belanda menjadi peringatan keras bahwa fase gugur tidak memberi ruang bagi tim yang lengah.
Inggris memang lebih diunggulkan di atas kertas, tetapi Tuchel menegaskan selisih kualitas antartim di Piala Dunia sangat tipis. Satu kesalahan kecil, menurut dia, bisa langsung mengubah arah pertandingan dan menggagalkan rencana tim yang tampak lebih kuat.
DR Kongo datang dengan modal disiplin
DR Kongo lolos ke fase gugur sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik setelah tampil solid di fase grup. Tim asal Afrika itu disebut memiliki kekuatan fisik dan organisasi bertahan yang bisa menyulitkan Inggris bila bermain terlalu tergesa-gesa.
Tuchel menilai lawan seperti DR Kongo membutuhkan pendekatan yang sabar dan tenang. Ia ingin para pemain Inggris memanfaatkan peluang dengan lebih efektif tanpa terbawa tekanan berlebihan.
Pelajaran dari dua tim besar yang tersingkir
Jerman harus pulang lebih cepat setelah kalah dari Paraguay. Belanda juga tersingkir secara dramatis lewat adu penalti melawan Maroko.
Menurut Tuchel, dua hasil itu mempertegas kenyataan bahwa semua tim di fase gugur memiliki organisasi permainan yang rapi. Ia bahkan menyebut margin kesalahan di turnamen ini sangat kecil sehingga pertandingan apa pun bisa berubah cepat.
“Di Piala Dunia, semua tim memiliki organisasi permainan yang sangat baik,” ujar Tuchel. Pernyataan itu menjadi dasar pesannya agar Inggris tetap fokus penuh sejak menit awal.
Inggris siaga sampai babak penalti
Tuchel memastikan Inggris telah menyiapkan berbagai kemungkinan, termasuk jika laga berlanjut ke babak tambahan dan adu penalti. Skuad The Three Lions bahkan sudah menyusun daftar eksekutor, meski urutannya masih bisa berubah sesuai pemain yang berada di lapangan.
Untuk menjaga kondisi mental, Inggris juga membawa psikolog olahraga selama Piala Dunia 2026. Namun, Tuchel menegaskan langkah itu tidak khusus diarahkan untuk melatih adu penalti.
Persiapan semacam itu menunjukkan Inggris ingin menutup setiap celah risiko di fase gugur. Tuchel memahami tekanan turnamen dapat mengubah jalannya pertandingan hanya dalam hitungan menit.
Fokus hanya pada lawan berikutnya
Jika berhasil melewati DR Kongo, Inggris akan menghadapi Meksiko pada babak 16 besar. Jalur menuju final diperkirakan semakin berat karena sejumlah negara unggulan masih bertahan di turnamen.
Meski demikian, Tuchel menolak timnya memikirkan laga berikutnya terlalu cepat. “Kami tidak boleh memikirkan lawan berikutnya. Fokus kami sepenuhnya adalah DR Kongo,” tegasnya.
Pernyataan itu menutup gambaran pendekatan Inggris yang memilih disiplin daripada rasa percaya diri berlebihan. Dengan kedalaman skuad dan status sebagai favorit, Inggris tetap berada dalam posisi kuat, tetapi Tuchel jelas tidak ingin timnya menjadi korban kejutan berikutnya.
