Internet Lemah Bukan Lagi Penghambat, AI Kini Bisa Diproses Langsung Di Perangkat

Author: Redaksi Android62

AI di Indonesia kini mulai dirancang agar tetap berjalan meski koneksi internet tidak stabil. Di wilayah yang tersebar di banyak pulau, pendekatan seperti ini menjadi kunci karena tidak semua daerah punya infrastruktur yang bisa disamakan dengan kota besar.

Kondisi geografis Indonesia membuat penerapan kecerdasan buatan tidak bisa memakai pola yang seragam. Ribuan pulau, kapasitas energi yang terbatas di banyak kepulauan, dan jaringan internet yang belum stabil memaksa industri mencari cara yang lebih hemat daya dan lebih fleksibel.

Country Manager for FSI & PS HPE Indonesia, Henry Lo, menilai implementasi AI di wilayah terpencil harus mengikuti karakter daerah. Pandangan itu ia sampaikan dalam sesi diskusi di Tech & Telco Forum 2026, Rabu (6/5/2026), dengan menyoroti lokasi yang hanya memiliki daya listrik kecil.

Menurut Henry, perusahaan perlu menyiapkan solusi yang tidak seragam. HPE disebut sudah menyiapkan portofolio yang mencakup kebutuhan energi dari sangat kecil hingga sangat besar, termasuk solusi hemat energi untuk wilayah terpencil.

Pendekatan itu menjadi penting karena tantangan utama di daerah bukan hanya soal kemampuan komputasi, tetapi juga soal keberlanjutan penggunaan. Jika daya listrik terbatas, maka efisiensi menjadi faktor yang menentukan agar AI tetap bisa dipakai secara praktis.

Di sisi lain, keterbatasan jaringan ikut mengubah cara pemrosesan AI dilakukan. Commercial Lead Indonesia AMD, Brandon Lubis, mengatakan bahwa kondisi internet yang terbatas membuat pengembangan AI tidak bisa sepenuhnya bergantung pada cloud.

AMD kemudian mengembangkan pendekatan high computing, yaitu pemrosesan AI yang dilakukan langsung di perangkat. Brandon menjelaskan bahwa sebuah chip di laptop kini dapat memiliki AI engine di dalamnya, dengan kemampuan hingga 60 TOPS atau trillion operation per second.

Skema itu memungkinkan data diolah lebih dulu di perangkat sebelum dikirim ke cloud saat koneksi tersedia. Dengan cara tersebut, proses AI tetap berjalan meski internet belum merata dan transfer data bisa dilakukan belakangan ketika jaringan sudah ada.

Brandon juga mencontohkan bahwa sebuah laptop kecil bisa menjalankan proses AI tanpa harus langsung tersambung ke internet. Cara kerja ini dinilai lebih efisien sekaligus lebih cocok untuk wilayah yang akses konektivitasnya masih naik turun.

Bagi Indonesia, pendekatan seperti ini terasa semakin relevan karena sebaran wilayahnya tidak merata dari satu pulau ke pulau lain. Fokus pembahasan AI pun bergeser, bukan lagi hanya soal pusat data dan kapasitas besar, tetapi juga soal efisiensi daya, kemampuan perangkat, dan fleksibilitas sistem.

Pergeseran ini membuka peluang bagi industri untuk membawa AI lebih dekat ke pengguna di daerah. Di saat yang sama, tantangan utamanya tetap jelas, yakni membuat teknologi canggih mampu menyesuaikan diri dengan kondisi geografis yang beragam dan keterbatasan infrastruktur yang masih banyak ditemui.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru