Strategi dollar-cost averaging atau DCA memberi jalan yang lebih stabil bagi investor kripto yang tidak ingin terjebak emosi saat harga bergerak liar. Dengan membeli jumlah dolar yang sama secara berkala, investor tetap bisa masuk pasar tanpa harus menebak apakah harga sedang di puncak atau di dasar.
Di pasar kripto, pendekatan seperti ini terasa relevan karena perubahan harga bisa sangat cepat. Pergerakan 5% saja sudah sering dianggap biasa, sementara token baru bisa lebih liar lagi karena kapitalisasi pasar yang kecil dan likuiditas yang lebih rendah.
DCA bekerja dengan aturan yang sederhana. Investor membeli dengan nominal tetap pada jadwal yang sudah ditentukan, sehingga saat harga turun jumlah koin yang didapat lebih banyak dan saat harga naik jumlahnya lebih sedikit.
Pola ini membantu mengurangi kebiasaan mengejar harga saat pasar naik dan kabur saat pasar turun. Dalam kondisi kripto yang bisa berubah 10% dalam hitungan minggu, hari, bahkan jam, keputusan emosional seperti itu sering merusak portofolio.
Menebak waktu terbaik untuk masuk dan keluar pasar juga bukan hal yang mudah. Bahkan trader profesional yang memiliki lebih banyak waktu dan alat pun jarang berhasil melakukannya secara konsisten.
Karena itu, DCA sering dipilih untuk memutus siklus panik dan FOMO. Jadwal pembelian yang sudah ditetapkan membuat investor tidak perlu terus memantau grafik atau bereaksi berlebihan terhadap berita.
Istilah dollar-cost averaging sendiri diperkenalkan Benjamin Graham pada 1949 dalam bukunya, The Intelligent Investor. Intinya tetap sama, yaitu berinvestasi dengan jumlah tetap secara berkala tanpa terlalu memedulikan harga aset pada saat pembelian.
Contohnya sederhana. Seseorang bisa membeli senilai $50 setiap Senin atau $200 pada awal setiap bulan, dan yang paling penting adalah konsistensi jadwalnya.
DCA juga berbeda dari lump-sum investing, yang menempatkan seluruh dana sekaligus. Jika seluruh uang masuk saat harga sedang tinggi lalu harga turun keesokan harinya, nilai investasi ikut turun seketika.
Sebaliknya, DCA cenderung bekerja lebih baik saat harga bergerak turun. Saat harga tinggi, dana yang sama membeli lebih sedikit aset, tetapi saat harga rendah, dana itu membeli lebih banyak.
Ilustrasinya mudah dilihat. Jika satu token berharga $10, maka investasi $100 menghasilkan 10 token, lalu saat harga turun ke $5, nominal yang sama bisa membeli 20 token.
Pola inilah yang membuat harga rata-rata pembelian menjadi lebih halus dari waktu ke waktu. Investor tidak perlu menebak kapan pasar akan berbalik arah, karena pembelian terus berjalan sesuai jadwal.
Untuk memulai, hanya ada dua keputusan utama yang perlu dibuat. Pertama, tentukan jumlah dana yang siap diinvestasikan, lalu tentukan seberapa sering pembelian dilakukan.
Besaran dana harus realistis dan sesuai anggaran. Angkanya bisa $25 per minggu, $50, atau $500 per bulan, tergantung arus kas dan kewajiban lain yang dimiliki.
Setelah itu, konsistensi menjadi bagian paling penting. Jika penghasilan masuk dua mingguan, jadwal bisa disesuaikan dengan hari gajian agar eksekusinya lebih mudah dijaga.
Pembelian bisa dilakukan secara otomatis lewat fitur autobuy atau secara manual melalui platform perdagangan. Beberapa bursa kripto seperti Coinbase menyediakan pembelian berulang otomatis untuk memudahkan pengaturan nominal dan frekuensi.
Namun, cara otomatis tidak selalu paling murah. Spread dapat bekerja seperti markup transaksi dan biayanya bisa mencapai 2% atau lebih, sementara pembayaran dengan kartu debit dapat menambah biaya lagi.
Alternatif lain adalah memakai transfer ACH dari rekening bank. Transfer seperti ini biasanya gratis, lalu dana dapat digunakan untuk membeli langsung di platform perdagangan lanjutan setelah masuk.
Jika eksekusi dilakukan manual, market order biasanya menjadi pilihan paling sederhana. Order ini langsung terisi dari order jual yang tersedia, sedangkan limit order menunggu harga tertentu dan bisa saja tidak terpenuhi.
Market order memang sering lebih mahal daripada limit order, tetapi biayanya dinilai masih lebih ringan dibanding autobuy. Beberapa platform juga menyediakan deposit otomatis atau pembelian stablecoin seperti USDC.
USDC dipatok ke $1 USD dan didukung oleh kas serta aset setara kas, termasuk Treasury bonds. Meski begitu, setiap platform memiliki skema biaya sendiri, sehingga pemeriksaan biaya tetap diperlukan sebelum memilih cara otomatis.
Dalam praktiknya, DCA terlihat menarik terutama ketika harga bergerak naik turun tajam. Sebuah contoh menunjukkan bahwa investasi $100 per bulan selama 6 bulan pada token yang sempat turun lalu pulih bisa menghasilkan 18 token, dengan rata-rata harga beli $33,33 per token.
Pada skenario itu, harga token bergerak dari $50 turun ke $40, lalu ke $20, naik ke $25, kembali ke $40, dan berakhir di $50 pada bulan keenam. Jika seluruh dana $600 masuk di awal, investor hanya mendapat 12 token dan nilainya sempat turun menjadi $240 pada bulan ketiga.
Hasil tersebut memperlihatkan cara kerja utama DCA. Saat harga rendah, pembelian otomatis menghasilkan lebih banyak token, sehingga biaya rata-rata ikut turun tanpa perlu menebak waktu masuk terbaik.
Meski begitu, strategi ini tetap punya batas. DCA tidak menjamin pembelian di harga terendah, karena fokusnya ada pada harga rata-rata, bukan pada titik dasar pasar.
Konsistensi juga sangat menentukan. Manfaat DCA bisa berkurang jika investor berhenti di tengah jalan hanya karena pasar terlihat buruk.
Dalam pasar yang terus naik, lump-sum investing justru bisa unggul. Jika seluruh dana masuk lebih awal saat harga sangat murah, hasilnya bisa lebih baik karena investor memegang lebih banyak token sejak awal.
Biaya transaksi juga perlu diperhatikan karena dapat menggerus hasil akhir. Bitcoin dan ethereum memang sudah tidak sevolatil dulu, tetapi pergerakan harganya masih lebih cepat daripada aset tradisional seperti reksa dana pasar luas.
Token baru, termasuk memecoin dan altcoin lain, bisa bergerak lebih liar lagi. Di kondisi seperti itu, DCA memberi cara yang lebih tenang untuk tetap membeli aset yang dipahami tanpa terseret kepanikan pasar.
