Investigasi Israel Dibuka Usai Tentara Tertangkap Menodai Patung Maria di Lebanon Selatan

Author: Redaksi Android62

Militer Israel membuka penyelidikan setelah sebuah foto tentara yang dianggap menodai patung Virgin Mary di Lebanon selatan menyebar luas dan memicu kecaman dari berbagai pihak. Angkatan bersenjata Israel menyebut insiden itu “sangat serius” karena gambar tersebut kembali menyorot perilaku pasukan mereka selama operasi di wilayah Lebanon selatan.

Foto itu sebenarnya diambil beberapa minggu lalu di desa Debel, wilayah yang mayoritas penduduknya Kristen. Namun gambar baru beredar secara daring pada hari Rabu, dan sejak itu perhatian publik kembali tertuju pada tindakan pasukan Israel di area tersebut.

Dalam foto itu, seorang tentara tampak menaruh rokok ke mulut patung sambil merokok. Tindakan tersebut kemudian dipandang sebagai bagian dari rangkaian tuduhan yang lebih luas, mulai dari perusakan hingga penjarahan properti dan tempat ibadah selama operasi militer Israel di Lebanon selatan.

Debel kembali jadi sorotan

Kasus yang terkait Debel bukan yang pertama. Bulan lalu, seorang tentara lain difoto merusak patung Yesus di desa yang sama, dan media Lebanon melaporkan bahwa pasukan Israel juga membuldoser panel surya yang memasok listrik bagi sistem air kota itu.

Laporan yang sama menyebut rumah, jalan, dan pohon zaitun ikut dihancurkan. Skala kerusakan itu membuat pejabat serta warga Lebanon khawatir orang-orang yang mengungsi akibat perang tidak akan memiliki tempat untuk kembali.

Di saat yang sama, pasukan Israel tetap meningkatkan serangan di Lebanon, termasuk di ibu kota Beirut. Mereka menyatakan serangan itu menargetkan pejuang dan infrastruktur Hezbollah, sementara mereka juga masih menduduki wilayah luas di Lebanon selatan dan merobohkan seluruh desa di area tersebut.

Sorotan atas umat Kristen

Perhatian juga mengarah pada perlakuan terhadap umat Kristen di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki. Kelompok-kelompok keagamaan telah mendokumentasikan meningkatnya pelecehan dan kekerasan terhadap peziarah Kristen, rohaniwan, dan warga Kristen Palestina.

Bentuknya beragam, mulai dari serangan fisik hingga meludah. Salah satu kasus yang menonjol terjadi bulan lalu ketika seorang biarawati asal Prancis diserang dekat Kota Tua Yerusalem.

Rekaman video menunjukkan seorang pria mengikuti biarawati itu, mendorongnya hingga jatuh dan mengalami cedera di kepala, lalu kembali menendangnya sebelum orang-orang di sekitar turun tangan. Dalam kasus itu, polisi Israel mengumumkan penangkapan seorang pria berusia 36 tahun setelah video serangan tersebut menyebar.

Tekanan dan tindakan yang jarang muncul

Otoritas Israel kerap cepat mengutuk insiden yang menarik perhatian global. Namun para pakar menilai tindakan biasanya baru diambil ketika peristiwa semacam itu berisiko mengikis simpati Amerika Serikat dan komunitas internasional terhadap Israel.

Setelah kecaman atas perusakan patung Yesus di Debel, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung mengeluarkan kecaman. Dua tentara yang terlibat kemudian dicopot dari tugas tempur dan dijatuhi hukuman penjara 30 hari.

Salah satunya menggunakan palu godam untuk menghancurkan patung, sementara tentara lainnya merekam aksi itu. Langkah disiplin seperti ini dianggap menonjol karena investigasi militer Israel sangat jarang menemukan kesalahan dalam perilaku pasukannya.

Pada Maret, kantor Netanyahu juga menyampaikan permintaan maaf setelah polisi Israel menghalangi Patriark Latin Yerusalem Pierbattista Pizzaballa mencapai Gereja Makam Kudus dan memimpin misa pada Minggu Palma. Meski begitu, tidak ada tentara Israel yang didakwa membunuh warga Palestina dalam satu dekade terakhir.

Kerusakan luas di Gaza dan wilayah lain

Dampak perang Israel juga terlihat di Gaza, tempat lebih dari 72.000 orang tewas dan sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Korban juga jatuh di luar Gaza, termasuk jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, seorang Kristen, yang ditembak mati oleh tentara Israel di Tepi Barat yang diduduki pada 2022.

Di Gaza, pasukan Israel juga menghancurkan lebih dari 800 masjid, termasuk Masjid Agung Omari. Mereka juga merusak berat beberapa gereja, termasuk Gereja Saint Porphyrius yang merupakan gereja tertua di Gaza dan ketiga tertua di dunia.

Berita Terbaru