Apple tampaknya sedang menyiapkan cara baru untuk menjual iPhone 18, dan dampaknya paling terasa bagi pengguna yang biasa menunggu model standar. Dalam skema ini, iPhone 18 reguler baru muncul pada musim semi 2027, sementara seri Pro dan model lipat lebih dulu masuk pasar.
Perubahan jadwal seperti ini membuat Apple tidak lagi mengandalkan satu momen peluncuran besar untuk semua varian. Sebaliknya, perusahaan itu akan memecah sorotan ke beberapa gelombang agar tiap model punya panggung sendiri.
Fokus ke lini premium
Jika pola tersebut benar terjadi, model Pro berpotensi menjadi pilihan utama bagi pembeli yang ingin segera upgrade. Saat iPhone 18 reguler belum tersedia, opsi yang paling cepat hadir justru berada di kelas premium.
Situasi itu juga bisa mengangkat rata-rata harga jual iPhone pada kuartal akhir tahun. Selama ini, iPhone 17 yang dijual mulai 799 dolar AS atau Rp14 jutaan masih menjadi jalur aman bagi pengguna yang ingin model terbaru tanpa naik ke varian Pro.
Dengan rilis yang dipisah, Apple berpeluang mendapat dua dorongan penjualan yang berbeda. Gelombang pertama datang dari seri Pro pada akhir 2026, lalu gelombang berikutnya menyusul saat iPhone 18 reguler akhirnya dirilis beberapa bulan kemudian.
Jalur berbeda untuk model lipat
Di antara jajaran yang disebut, iPhone Ultra versi lipat mendapat perlakuan paling unik. Perangkat itu dikabarkan tetap diumumkan bersama iPhone 18 series pada September 2026, tetapi penjualannya baru dimulai pada November atau Desember 2026.
Jeda ini memberi ruang bagi iPhone 18 Pro Max untuk lebih dulu menyita perhatian pasar flagship. Jika iPhone lipat langsung tersedia bersamaan, perhatian konsumen dikhawatirkan cepat bergeser ke model yang dianggap lebih futuristis dan lebih mahal.
Tambahan waktu juga dinilai penting untuk proses produksi iPhone Ultra. Perangkat lipat tersebut disebut memakai komponen baru dengan tingkat kompleksitas tinggi, sehingga pengujian ekstra dibutuhkan agar risiko gangguan hardware saat peluncuran awal bisa ditekan.
Momentum menjelang akhir tahun
Penempatan iPhone Ultra pada November juga membuka peluang pemasaran baru di periode akhir tahun. Saat penjualan smartphone reguler biasanya melandai setelah musim rilis September dan Oktober, Apple masih bisa menarik minat pasar lewat produk premium baru.
Posisi iPhone Ultra juga tampaknya dibuat sangat berbeda dari lini iPhone biasa. Dengan harga yang diprediksi menyentuh 2.000 dolar AS atau setara Rp35 jutaan, perangkat itu diarahkan sebagai produk mewah sekaligus simbol status.
Pola ini mengingatkan pada langkah Apple pada 2017 ketika memperkenalkan iPhone 8 dan iPhone X. Saat itu, iPhone X hadir belakangan, tetapi tetap menjaga perhatian pasar Apple hingga akhir tahun berkat desain baru dan layar penuh yang mencuri perhatian publik.
Strategi yang mengatur ritme pasar
Perubahan jadwal iPhone 18 menunjukkan Apple tidak hanya bermain di sisi perangkat keras. Perusahaan itu juga terlihat makin fokus mengatur ritme pasar dan perilaku konsumen lewat waktu peluncuran yang dipisah.
Dengan memecah jadwal antara iPhone reguler, seri Pro, dan iPhone Ultra, Apple bisa menjaga tiap model tetap berada di pusat perhatian. Strategi ini juga membuat konsumen menunggu model yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial mereka.
Di sisi lain, Apple tampaknya percaya diri bahwa pembeli tetap akan menanti model incarannya meski jadwal rilis dibuat terpisah. Pertanyaannya kini bergeser ke pasar, apakah konsumen masih memilih iPhone berdasarkan kebutuhan, atau justru mengikuti pola yang dibentuk lewat strategi peluncuran Apple.
