Iqbaal Ramadhan Tak Bisa Mengulang Adegan saat Syuting di Tengah Pestapora

Author: Redaksi Android62

Iqbaal Ramadhan menghadapi tekanan berbeda saat menjalani syuting film Operasi Pesta Copet di tengah kerumunan Pestapora. Momen di festival musik itu berlangsung nyata dan tidak dapat diulang demi kebutuhan kamera.

Ribuan penonton, musik bervolume keras, serta pergerakan panggung membuat pemain harus segera menyesuaikan akting dengan keadaan. Mereka tidak bisa meminta pengunjung mengulangi ekspresi atau aktivitas yang telah terjadi.

Situasi tersebut menjadi tantangan utama bagi Iqbaal yang memerankan Ijal. Ia harus mengandalkan respons spontan ketika berada di antara penonton yang tidak mengetahui ada proses pengambilan gambar.

Contohnya, reaksi penonton yang sedang menyaksikan penampilan Sal Priadi hingga menangis hanya terjadi sekali. Produksi harus memanfaatkan momen itu tanpa mengganggu jalannya pertunjukan musik.

Dua Pendekatan Pengambilan Gambar

Tim produksi memakai dua cara untuk membangun suasana festival dalam film. Sebagian adegan direkam langsung saat Pestapora 2025 berlangsung, sedangkan bagian lain dibuat ulang dengan panggung dan tata visual yang menyerupai festival.

Pendekatan langsung memberi atmosfer alami yang sulit ditiru dalam lokasi buatan. Namun, metode tersebut membatasi koordinasi, pengulangan adegan, dan komunikasi antara pemain dengan kru.

Untuk adegan yang memerlukan kontrol lebih besar, produksi melibatkan sekitar 500 pemeran pendukung. Rekreasi festival memungkinkan pemain mengulang pengambilan gambar sambil menjaga kesinambungan pergerakan dan posisi orang di sekitar mereka.

Pemain Karakter Fokus Pengalaman Syuting
Iqbaal Ramadhan Ijal Merespons momen spontan di festival asli
Kristo Immanuel Adut Menjalani adegan dalam festival yang direka ulang
Zulfa Maharani Tia Mengerjakan drama dan dialog sebelum hari festival
Kawai Labiba Melodi Syuting di tengah penonton pada hari festival

Tantangan di Tengah Penonton Asli

Kawai Labiba juga merasakan tekanan ketika harus menyatu dengan penonton asli pada hari penyelenggaraan. Selain menjaga akting, pemain perlu melindungi kostum dan alur cerita agar tidak bocor ke publik.

Suara musik yang keras membuat komunikasi di area konser menjadi lebih rumit. Penampilan musisi terus berjalan sehingga adegan tidak bisa dihentikan atau diulang sesuka tim produksi.

Kristo Immanuel lebih banyak terlibat dalam bagian festival yang direka ulang. Meski demikian, ia menilai ratusan pemeran pendukung yang didandani sebagai penonton membuat suasananya tetap terasa meyakinkan.

Setiap pengulangan adegan mengharuskan para pemeran pendukung kembali ke posisi awal. Proses itu membantu menjaga kesinambungan adegan, terutama ketika cerita menampilkan aksi pencopetan di tengah kerumunan.

Tekanan yang Selaras dengan Cerita

Rasa takut ketahuan saat menjalankan adegan mencopet di antara banyak orang turut membuat pengalaman Kristo terasa lebih imersif. Ketegangan di lokasi mendukung konflik yang dialami para tokoh dalam film.

Zulfa Maharani menjalani bagian drama dan dialog sebelum hari festival berlangsung. Kondisi konser tidak memungkinkan percakapan direkam dengan leluasa karena lingkungan lokasi sangat bising.

Ia juga perlu menjaga ritme tubuh dalam adegan yang awalnya dipandu musik. Ketika musik panduan dimatikan untuk dialog, pemain tetap harus bergerak seolah lagu masih terdengar.

Operasi Pesta Copet mengikuti Ijal, Adut, Tia, dan Melodi, empat sahabat dari kawasan pinggiran kota yang terdesak biaya hidup dan sulit memperoleh pekerjaan layak. Mereka lalu memilih jalan pintas menjadi pencopet di konser musik.

Film produksi Imajinari itu menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod. Para pemain membagikan pengalaman produksi dalam jumpa pers di XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada 22 Juli 2026, dan film ini dijadwalkan tayang mulai 27 Agustus 2026.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru