Pasar minyak kembali terseret ketidakpastian setelah Brent sempat melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun. Lonjakan itu muncul saat pelaku pasar menilai meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pergerakan harga berlangsung sangat liar dalam dua hari perdagangan. Pada Kamis (30/4/2026), kontrak Brent untuk Juni sempat menyentuh 126,41 dollar AS per barrel, lalu terkoreksi ke 114,01 dollar AS per barrel sebelum kembali menguat pada perdagangan Jumat (1/5/2026).
Harga ikut bereaksi pada risiko konflik
Di pasar berikutnya, Brent untuk pengiriman Juli naik 1,11 persen menjadi 111,63 dollar AS per barel. West Texas Intermediate juga menguat 0,45 persen ke 105,54 dollar AS per barel.
Kenaikan itu menunjukkan bahwa pasar belum lepas dari kekhawatiran atas meluasnya konflik di Timur Tengah. Setiap perkembangan baru dari kawasan tersebut masih langsung memengaruhi sentimen pelaku pasar energi.
Aturan perang jadi sorotan
Selain faktor geopolitik, pasar juga menimbang tenggat War Powers Resolution tahun 1973. Aturan itu mewajibkan Presiden AS menarik pasukan dalam 60 hari sejak notifikasi ke Kongres, kecuali ada persetujuan untuk operasi militer.
Batas waktu itu jatuh pada 1 Mei setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Pemerintahan Trump menyatakan aturan tersebut tidak lagi berlaku karena ada gencatan senjata.
Seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengatakan tidak ada kontak senjata langsung sejak 7 April. Menurut pejabat itu, kondisi tersebut menghentikan penghitungan waktu otomatis dalam War Powers Resolution.
Washington dan Teheran masih saling menekan
Pemerintah AS juga mendapat dukungan pernyataan dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Ia merujuk pada berhentinya kontak senjata dalam beberapa pekan terakhir sebagai dasar penjelasan hukum operasi militer.
Namun ketegangan di lapangan belum mereda. Presiden Trump menyatakan akan mempertahankan blokade sampai Iran menyepakati perjanjian nuklir baru pada Rabu (29/4/2026).
Iran membalas dengan peringatan keras dan tetap menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade pelabuhan mereka. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa serangan baru dari Washington akan membawa dampak yang “panjang dan menyakitkan”.
Pasar masih membaca arah berikutnya
Di tengah tarik ulur itu, Komando Pusat AS dikabarkan telah menyiapkan rencana serangan singkat untuk memecah kebuntuan negosiasi. Situasi seperti ini membuat pelaku pasar terus mencermati setiap sinyal baru yang bisa mengganggu aliran pasokan energi.
Selama risiko konflik dan gangguan jalur pasokan belum mereda, harga minyak diperkirakan tetap sensitif terhadap pernyataan dari Washington dan Teheran. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang menjaga pasar minyak tetap gelisah.
